Satu Lagi Harta Paling Berharga Negeri Ini Pergi: Lord Didi Kempot

Pagi tadi bisa dipastikan sebagian besar masyarakat Indonesia terhenyak mendengar kabar kepergian sang legenda musik tradisional, Didi Kempot. Kepulangan pria berusia 53 tahun itu menyisakan kesedihan bagi setiap orang yang mencintainya. Bahkan menjelang kepergiannya, Didi Kempot masih memberikan kontribusi bagi musik Indonesia. Jelas kabar meninggalnya Lord Didi menjadi kehilangan besar bagi Indonesia, khususnya di ranah musik tradisional.

Hari ini sekitar pukul 07.30, seorang legenda di blantika musik Indonesia telah pergi untuk selamanya. Ya, Didi Kempot menghembuskan nafas terakhirnya di usia 53 tahun. Kabar meninggalnya beliau begitu mengagetkan segala insan masyarakat. Bagaimana tidak, menjelang kepergiannya Didi Kempot masih memberikan sumbangsih besar bagi bumi pertiwi.

Saat virus corona mewabah di Indonesia, Didi Kempot menjadi salah satu figur publik yang aktif untuk mengajak masyarakat untuk bahu membahu melawan Covid-19. Belum genap seminggu yang lalu pelantun “Pamer Bojo” itu merilis sebuah lagu yang dipersembahkannya untuk para penggemar yang mengadu nasib di tanah perantauan. Lagu “Ojo Mudik” diciptakan Didi Kempot sebagai imbauan bagi para perantau untuk tidak mudik ke kampung halamannya terlebih dahulu. Dalam liriknya, Lord Didi menyatakan bahwa keluarga di kampung halaman pasti memahami kondisi yang sedang terjadi sekarang ini.

Pesan dalam lagu Ojo Mudik sesuai dengan imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tak hanya melalui lagu, Didi Kempot juga ikut berkontribusi melakukan penggalangan dana untuk penanganan virus corona. Berkat keterlibatannya, terhitung dana miliaran rupiah berhasil dikumpulkan untuk membantu mereka yang membutuhkan selama pandemi merebak.

Perjalanan Karier

Didi Kempot adalah sosok yang memiliki pengaruh besar bagi musik tradisional Indonesia. Dengan segala kemampuannya, Lord Didi berhasil menembus segala batas untuk mempopulerkan musik campursari yang menjadi aliran besutannya.

Mulai berkarier sejak 1984, Didi Kempot memulai perjalanan karier sebagai musisi jalanan di kota Solo, Jawa Tengah. 3 tahun setelahnya Lord Didi mengadu nasib ke Ibu Kota hingga tahun 1989. Disinilah nama panggung Didi Kempot tercipta yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar. 

Di tahun yang sama dirinya berhasil meluncurkan album perdananya. Salah satu lagu yang terkenal di album tersebut adalah “Cidro” yang menceritakan kisah asmara Lord Didi yang kandas akibat tak disetujui orang tua kekasihnya. Sejak saat itulah, Didi Kempot konsisten menulis lagu yang bertema patah hati.

Setelahnya karier Didi Kempot mulai bersinar di industri musik Indonesia. Berkat album perdananya, Lord Didi mulai mendapat kesempatan untuk tampil di luar negeri yakni di Suriname, Amerika Selatan. Sebagai informasi negara ini banyak dihuni banyak warga Indonesia, bahkan sampai saat ini nama Didi Kempot masih dikenal luas di negara tersebut.

Sekembalinya dari Suriname, nama Didi Kempot semakin terkenal di blantika musik Indonesia. Beberapa lagu hits seperti “Stasiun Balapan”, “Kalung Emas”, hingga “Pamer Bojo” semakin melambungkan namanya. Meski begitu, Didi Kempot tak menjadi sombong karena ketenarannya. 

Sosok yang Begitu Dicintai

Dengan perjalanan karier yang begitu berliku, Lord Didi menjelma menjadi idola segala lapisan masyarakat. Melalui karakternya yang rendah hati, pria kelahiran 31 Desember 1966 itu begitu dicintai segala kalangan. Mulai dari pejabat, figur publik, hingga masyarakat biasa memiliki kesan mendalam kepada sosok yang telah menciptakan sebanyak 800 lagu tersebut.

Satu tahun belakangan menjadi titik balik karier seorang Didi Kempot. Secara tiba-tiba dirinya menjadi fenomena di generasi milenial Indonesia. Berkat lagunya yang bertemakan patah hati, dirinya menjadi idola anak muda. Banyak dari mereka yang perasaannya terwakili oleh lagu-lagu milik Didi Kempot.

Melalui karakternya yang rendah hati, pria dengan nama lahir Dionisius Prasetyo itu memiliki penggemar militan yang menamakan dirinya sebagai Sobat Ambyar. Ungkapan “Loro ojo ditangisi, nanging dijogeti wae”ini menjadi semboyan yang selalu dipegang para pecintanya.

Melalui fenomena ini, Didi Kempot kembali menuai pujian karena berhasil mempopulerkan musik tradisional kepada generasi muda Indonesia. Lord Didi mampu mengemas musik yang awalnya dipandang sebelah mata menjadi musik yang diterima baik di kalangan anak muda.

Salah satu pencapaian Didi Kempot adalah dinobatkan sebagai Maestro Campursari dalam penghargaan Indonesian Dangdut Awards pada tahun 2019 lalu. Penghargaan itu adalah salah satu dari banyak penghargaan yang didapatkan Didi Kempot selama karier panjangnya di dunia musik selama 30 tahun.

Kehilangan Besar Musik Indonesia

Kini sosok penuh karisma dan pesan baik itu telah pergi untuk selamanya. Kepergian Didi Kempot tentu menjadi kehilangan bagi dunia musik Indonesia. Bagaimana tidak, sosok berjuluk “Godfather of Broken Heart” itu menjadi sosok utama yang masih konsisten mempopulerkan musik tradisional pada jaman modern saat ini. Pertanyaan pun muncul, siapa yang akhirnya meneruskan perjuangan dari Didi Kempot untuk terus melestarikan musik tradisional?

Semoga waktu dapat menjawab pertanyaan di atas. Kepergian dari Didi Kempot meninggalkan warisan yang tak sedikit untuk perjalanan musik tradisional di tanah air. Semoga sepak terjang Lord Didi menjadi inspirasi para pegiat musik tradisional untuk mempopulerkan aliran musik tersebut.

Didi Kempot mengajarkan kita semua untuk merayakan patah hati tanpa harus bersedih. Namun kepergiannya membuat patah hati bagi semua orang yang dicintainya. Karya milik Didi Kempot tentu selalu abadi untuk dikenang.

Sugeng tindak, Pakdhe Didi.