Dampak Perubahan Iklim Bisa Membuat Bir Menjadi Langka

Dampak Perubahan Iklim Bisa Membuat Bir Menjadi Langka

Perubahan iklim global adalah isu yang nyata dan bisa berbuah malapetaka bagi makhluk hidup yang ada di bumi ini. Tapi, selain dampak nyata bagi manusia, hewan, atau tanaman, perubahan iklim bisa juga memberikan efek ke lingkup yang lebih kecil, seperti untuk bir, sehingga minuman beralkohol hasil fermentasi itu bisa menjadi langka.

Selama bertahun-tahun kita (baca : manusia) telah terus menerus melepaskan karbondioksida ke atmosfir dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, gas bumi dan minyak bumi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia, yang menuju ke arah meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan.

Sudah ada beberapa kejadian akibat perubahan iklim global yang terjadi, seperti mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar.

Dikutip dari dw.com, kekeringan yang berkepanjangan dan cuaca panas yang meluas semakin parah memicu penurunan hasil panen barley di dunia, bahan utama bir. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan harga dan penurunan konsumsi bir, demikian hasil studi internasional yang baru dirilis Universitas California, Irvine, dan Universitas East Anglia (UEA) di Inggris.

Melalui penelitian ini, para peneliti dari Inggris, Cina, Meksiko dan Amerika Serikat mengidentifikasi peristiwa cuaca ekstrem dan membuat model dampak peristiwa iklim tersebut pada lahan gandum di 34 wilayah di dunia.

Hasil dari studi terbaru ini mengungkapkan potensi merosotnya produksi rata-rata mulai dari 3 hingga 17 persen, tergantung tingkat keparahan wilayah tersebut.

Dalam kondisi cuaca terparah, hasilnya menunjukkan konsumsi bir global akan menurun 16 persen, atau 29 miliar liter (7,6 miliar galon), yang kira-kira sama dengan jumlah total bir yang dikonsumsi di Amerika Serikat setiap tahunnya. Dalam skenario yang lebih ringan, studi itu menunjukkan konsumsi bir bisa turun 4 persen, sementara harga bir bisa naik 15 persen.

Negara-negara yang mengonsumsi bir per kapita dalam beberapa tahun terakhir juga akan terkena dampak konsumsi paling besar. Dengan jumlah penduduk 1,4 miliar orang, Cina adalah negara nomor satu yang berdasarkan jumlah volumenya paling banyak mengonsumsi bir. Bila cuaca ekstrem meningkat, maka konsumsi bir di negara tersebut bisa turun 4,34 miliar liter – atau sekitar 10 persen dari konsumsi saat ini.

Di AS, konsumsi bir bisa turun 20 persen, ini artinya beberapa orang Amerika mungkin harus meninggalkan kebiasaannya bermain permainan populer, seperti Beer Pong. Di Jerman, negara yang terkenal lewat bir Pilsner-nya, disebutkan konsumsi bir bisa berkurang sekitar 30 persen. Bila itu terjadi, maka festival bir, Oktoberfest akan sangat berbeda.

Perubahan pasokan barley akan mempengaruhi jumlah yang tersedia di pasaran. Distribusi gandum juga digunakan untuk pakan ternak, sehingga pembuatan minuman beralkohol hasil fermentasi itu tergantung pada harga spesifik di suatu daerah.

Negara-negara pecinta bir di Eropa tertentu akan menjadi yang paling terpukul dengan harga tinggi.  Ketika cuaca ekstrem terjadi maka rata-rata penurunan pasokan bisa mencapai 27 hingga 38 persen.

Lalu, apakah dengan keadaan di atas juga akan berpengaruh pada negara Indonesia yang dinilai sebagai negara yang rendah konsumsi alkoholnya tapi berkontribusi cukup besar terhadap penerimaan negara yang bersumber dari cukai produk bir di negara ini?

Diketahui, sumbangan cukai minuman beralkohol ini mencapai Rp 6,4 triliun di tahun 2018 lalu. Penerimaan cukai dari minuman beralkohol ini tidak terlepas dari jumlah konsumsi yang dibantu oleh meningkatnya jumlah wisatawan. Wisawatan merupakan salah satu konsumen yang aktif mengkonsumsi minuman beralkohol.

Meningkatnya angka wisatawan baik lokal maupun mancanegara ikut mendorong penetrasi industri minuman beralkohol, mengingat saat ini Indonesia sudah mampu memproduksi minuman beralkohol jenis premium sebagai substitusi terhadap minuman beralkohol impor.

Share this article :
Vantage Banner Ads