Dampak Brutal Covid-19 Untuk Industri Kreatif

Banyak sudah elemen kehidupan yang terpengaruh oleh kekacauan yang disebabkan oleh Covid-19. Mulai dari gelembung pengangguran, hingga matinya pemasukan.

Di antaranya yang paling nyusruk adalah industri pariwisata dan kuliner, atau lebih dikenal dengan sebutan sektor hospitality. Beberapa rekan yang sebelumnya mendapatkan penghasilan dari usaha Beer House kelolaan dia, dengan omset ratusan juta per hari, sekarang pemasukannya menukik tajam menjadi ratusan ribu rupiah saja per hari. Itu pun dengan mengandalkan loyal customer mereka yang memang sudah jadi pelanggannya selama bertahun-tahun. Sementara di bagian lain, semacam dunia hiburan, banyak sekali teman-teman Disjoki dan grup musik yang mati kutu terdampak dari wabah ini.

Mereka para pelaku dunia entertainment ini merupakan nama-nama besar di industri tersebut, dan mengaku sudah tidak tahu lagi akan mendapatkan pemasukan dari mana selain dari manggung dan manggung. Selain itu, di bidang industri kreatif juga mulai nampak nelangsa, karena biduk koceknya kian berduri akibat akibat jarangnya klien yang masuk. Termasuk agensi-agensi baik digital maupun yang konvensional.

Mungkin media terlihat dan terdengar aman-aman saja, namun sekarang hal tersebut sudah menuju kepada dalil mitos. Karena terus terang saja kompetisinya pun semakin keras, di mana asupan pemberitaan hanya terfokus kepada info yang itu-itu melulu, yakni Covid-19. Brutal, bukan?

Lalu bagaimana kita dan mereka harus menyikapinya? Karena saya rasa para pembaca sekalian banyak yang hidupnya bergantung dari sektor-sektor ini. Mungkin inilah saatnya untuk bebenah diri agar kita lebih peka lagi terhadap sesama dan mulai memikirkan hal terpenting dalam ornamen kehidupan, yaitu semakin mempersiapkan diri lagi untuk segala kemungkinan terburuk, dan kita semua melakukan pembekalan diri lagi agar dapat bekompetisi sehat secara global, bagaimana turut serta membangun dunia dengan cara yang waras, positif, penuh perhitungan, serta tidak serakah.