Dagelan Brilian A la Mardial

Enam tahun lalu publik internet dibuat tercengang oleh video parodi mash up super cemerlang karya seniman muda metropolitan yang karirnya sedang menanjak terus, Mardial. Kekuatannya merata di semua lini. Dia pintar mengedit musik maupun video, membuat nada-nada popular dalam sebuah lagu dengan pilihan not-not yang tidak biasa, menebar aransemen ber-zat candu ke seluruh nafas musiknya, di mana siapapun yang pertama kali mendengarkan akan langsung ketagihan. Dan hebatnya lagi, pria ramah ini selalu berhasil memadumadankan kepiawaiannya tersebut ke sebuah digital package penuh kualitas, sehingga selalu berakhir viral di hampir seluruh platform social media. Kolaborasi apik pria pintar penuh selera asal Pasar Minggu ini, dengan beberapa garda depan hiphop lokal, seperti Ramen Gvrl, Laze, Yacko, serta deretan nama lainnya, menjadi hasil kongkrit jenial beliau dalam hal berkesenian.

Mardial sekarang begitu masyhur dengan mamang kesbor-nya. Imajinasi Anda yang tiada henti ini sumbernya dari mana saja?
Wah, kalau ide untuk konten mamang kesbor suka datang begitu saja dan tidak terstruktur. Yang jelas semuanya berkiblat pada isu sosial dan keresahan yang bergejolak di hati, khususnya dalam ranah dunia sosial media dan permusikan.

Berarti Anda ini termasuk tipikal musisi yang mudah resah, ya? Lalu setiap hati gundah, itu langsung diimplementasikan ke dalam sebuah karya?
Tidak setiap waktu resah, sih. Paling sering timbul keresahan jikalau saldo di rekening mulai menipis. Hahaha. Apabila kegundahan itu datang biasanya akan langsung diungkapkan melalui sosial media terlebih dahulu, sambil melihat respon dari kawan-kawan dunia maya, sekaligus riset untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya. Baik berupa karya audio maupun visual. Tapi tidak semuanya harus dijadikan karya. Karena kalau semua dijadikan karya kapan saya cari makannya.

Lha, memang dari hasil berkarya bukan-nya Anda mendapatkan penghasilan yang lumayan? Saya melihatnya seperti itu
Lumayan itu relatif. Sejauh ini memang lumayan untuk bisa menyambung kehidupan. Namun seiring rumit-nya dinamika di era globalisasi ini, saya rasa yang saya lakukan selama ini belum aman untuk masa yang akan datang. Jadi, selain berkarya saya juga harus ber-matematika. Karena percuma kalau punya karya tetapi tidak tahu bagaimana cara menjualnya.

Untuk urusan penampilan di depan publik, dalam sebulan ada berapa job komersil yang biasanya mampir ke hidup Anda? Ini yang berkaitan dengan musik, ya. Dan kalau boleh tahu, berapa publish rate Mardial untuk sekali tampil?
Untuk tahun ini sepi job. Rata-rata cuma sekali dalam dua bulan. Mungkin karena saya mematok harga yang cukup bombastis. Makanya mulai hari ini saya akan memberikan harga promo yang spesial. Yang penting cukup untuk mengganti biaya listrik, internet, kredit rumah, asuransi kesehatan, gym membership dan bisa menghidupi kru-kru saya yang saat ini juga masih magang.

Hahaha. Penghasilan sebagai YouTuber lumayan dong? Secara subscribers dan viewers-nya konsisten
Ini justru memprihatinkan. Karena stereotip bahwa Youtuber itu banyak uang adalah salah. Karena sejauh ini yang saya terima dari Google sangat kecil. Mungkin karena subscriber saya kebanyakan menggunakan adblock sehingga iklan yang seharusnya menjadi pemasukan utama di YouTube malah tidak muncul. Tetapi kabar baiknya adalah sudah ada beberapa sponsor yang masuk dan turut mendanai konten video saya. Budget-nya lumayan menjanjikan. Lumayan buat liburan sama pacar.

Anda kan memiliki beberapa playlist di YouTube Channel Mardial, masterpiece Anda video yang mana saja? Mengapa? Dan apakah itu yang berhasil menarik perhatian sponsor?
Kalau dibilang masterpiece sih belum, cuma video yang membuat saya cukup bangga adalah Koplofy, Tutorial Diss Track dan Tutorial Indie Folk. Untuk Koplofy saya bangga karena video itu bersifat fiktif namun banyak yang mengira bahwa itu fakta, terbukti dengan masih banyaknya orang yang menanyakan link download dari aplikasi Koplofy. Dan untuk tutorial indie folk dan diss track saya merasa berhasil untuk menyampaikan keresahan di dunia musik dengan cara yang menghibur dan tetap elegan. Mungkin ketiga video itu yang membuat sponsor datang. Karena kontennya berisikan komedi satir namun memiliki nilai edukasi dan selalu memiliki output berupa karya musik.

Ok. Ngomong-ngomong, skill Anda terus berkembang melewati zaman, ini subyektif ya. Nggak kasian apa, sama para DJ yang tetap keukeuh dengan keoldskulan-nya? Memang tidak ada niat untuk bikin workshop buat junior maupun senior yang notabene sebenarnya membutuhkan info tricks meningkatkan skill seperti yang Anda miliki?
Terima kasih sebelumnya. Sebenarnya yang saya lakukan di YouTube itu juga dalam rangka berbagi tips dan trick dalam dunia Music Production. Cuma memang penyampaiannya dibalut dengan nuansa non formal dan sedikit diselipi komedi. Sehingga para DJ baik yang oldskul maupun newskul pun bisa menikmati informasi yang ingin disampaikan. Karena komedi bisa menjadi media yang asyik dan tidak terkesan menggurui. Untuk workshop sendiri, saya pribadi berharap ada pihak yang mau mengajak untuk sama sama belajar bareng. Walaupun informasi sudah dengan mudah bisa kita dapat di internet tetapi tatap muka masih jauh lebih efektif.

Pernah melakukan kolaborasi yang disesali?
Untungnya nggak pernah. Kalau kolaborasi sebagai Mardial saya menikmati semuanya. Pertanyaannya tiba-tiba serem gini. Hahaha.

Anda suka minum minuman keras jenis apa? Kan pernah tuh, ada video sama Ramen Gvrl lagi minum Anggur Merah (Amer), ada lagi nggak minuman alkohol favorit selain itu? Atau punya racikan sendiri?
Minuman favorit saya itu lebih ke yang ringan-ringan santai. Saya ngga suka yang sampai mabuk gitu. Paling favorit beer. Kalau lagi banyak duit wine. Hehehe.

Ok. Ada merek Wine sama Beer favorit?
Favourite Beer Bintang, favourite Wine Sababay. Local pride dan local price.

Oh ya, sponsor yang sudah berniat membiayai kegiatan kreatif anda siapa saja?
Saat ini ada sebuah perusahaan rokok dan online market place. Tidak bisa disebut brand nya dulu karena belum jalan.

Ada nggak club atau tempat hangout yang menjadi favorit Anda? Di mana musiknya sesuai, kondisinya menyenangkan, dan pemandangannya pun pas
Kalau club sih ngga ada. Karena club-club di Jakarta musiknya udah nggak asik. Hahaha. Sekarang malah lebih sering nge-beer santai aja di Joglo karena sepi jadi bisa enak ngobrolnya. Musiknya sih ngga enak, tapi yang penting bisa ngobrol dengan santai. Kalau mau sedikit ajojing, paling ke Mondo, yang sekarang sudah ganti jadi Haro. Di sana banyak event-event yang ajaib musiknya.

Setelah sekian tahun bergelut dengan industri kreatif, sebenarnya bagi Anda pribadi untuk ke depannya hingga usia senja nanti, yang paling aman untuk segi finansial itu yang bagian mana-nya? Sebagai praktisi? Orang di belakang layar? Atau apa?
Bagi saya pribadi yang paling aman adalah beradaptasi. Di saat industri mengharuskan saya untuk lebih berkecimpung di belakang layar, maka saya akan fokus di belakang. Di saat musik yang saya geluti dirasa mampu untuk bersaing di depan, maka saya akan maju ke depan. Selama tidak melenceng dari passion saya, yaitu musik. Seringkali orang bertanya apa profesi saya sebenarnya. Saya jawab saya ini musisi dan pekerja serabutan. Jadi untuk bisa aman secara finansial rahasianya adalah beradaptasi. Namun tidak lupa untuk meninggalkan legacy.

Sejauh ini, penghasilan dari bermusik sendiri sudah sampai ke tahap titik aman, kah?
Jujur saja belum. Karena kembali lagi ke kondisi industri kreatif yang selalu dinamis. Tahun kemarin saya sudah merasas aman, namun tiba-tiba pertengahan tahun ini saya merasa terancam. Tapi setidaknya saya sudah cukup bersyukur bisa bertahan sejauh ini dengan bermusik. Walaupun kedepannya soal financial management harus saya perdalam lagi.

Anda punya investasi? atau ada bisnis lain yang netizen tidak ketahui?
Nah kalau rencana bisnis banyak. Cuma masih rahasia nih ide nya. Kalau investasi sih standar lah. Masih nabung buat beli tanah di ibu kota baru. Hahahaha.

Sekarang idealnya hidup Anda seperti apa?
Ideal-nya adalah di saat waktu untuk berkarya secara idealis lebih banyak ketimbang berkarya by order.

Bagaimana cara seorang Mardial menikmati kehidupan social media, maupun di kenyataan, agar tetap seimbang, menyenangkan, dan dijauhkan dari depresi?
Sejauh ini saya menikmati kehidupan dengan sederhana saja. Bergaul dengan orang-orang produktif, perbanyak bercanda, menghabiskan waktu bersama orang tersayang. Mungkin ke depan-nya saya mesti lebih giat untuk menikmati kehidupan supaya lebih seru.

Dunia malam yang ideal bagi seorang Mardial itu yang seperti apa?
Yang mampu memberikan wadah untuk segala macam genre musik-nya. Yang tidak melestarikan budaya misoginistik terhadap pelaku maupun penikmat-nya. Yang peduli dengan kemajuan dalam industri musiknya bukan cuma keuntungan venue-nya.

Okay. Thank you so much!
Siap, thanks juga.

Video Wawancara Mardial