Kok Disain Ventela Mirip Converse, Ya?

Impresi berkembangnya industri tekstil dalam negeri yang berjalan selaras dengan semakin banyaknya benih inspirasi penunjang kreativitas, memunculkan beragam produk lokal sarat kualitas dan variasi. Terkhusus jika berbicara tentang industri sepatu lokal yang melesat cepat. Untuk segala varian bentuk, paduan warna, corak hingga cara promosi dan kampanye yang dibuat, Brand sepatu lokal ada pada titik tertingginya di puncak pasar selama warsa-warsa belakangan ini.

Puluhan brand sepatu lokal secara sporadis menginvasi pasar streetwear kala supremasi brand besar semakin menjadi dan harganya kian melambung tinggi. Tumbuh kembangnya terasa sangat deras dan agaknya menggeser dominasi brand-brand ternama kelas dunia yang betah bercokol pada kalcer fesyen terkini. Jaminan harga murah dan sentuhan tiru design yang dimiripkan menjadi amunisi brand sepatu lokal bergeriliya dalam pasar fesyen di rumahnya sendiri.

Promosinya berlangsung secara ekstensif dan tidak main-main. Terhitung berpuluh brand sepatu lokal membanjiri timeline media sosial yang digandeng alogaritma gila nan sok tahu penduga-duga akun calon pelanggan. Iklan dengan ragam slogan dan jargon dipilih masing-masingnya, beberapa cukup menyebalkan dan terkesan usang. Dari yang persuasif memaparkan secara detail kelebihan produknya, menawarkan diskon tinggi hingga yang menjurus ke implisit-implisit basi tentang kampanye cinta produk lokal. Sementara di satu sisi peristiwa ini bak anomali yang menyiratkan kian masifnya tren streetwear dan fesyen alternatif digandrungi secara total oleh para pemuda-pemudi yang memiliki kuasa penuh memegang kemudi tren berbusana dan bergaya.

Sementara harganya terpaut jauh di bawah rata-rata brand sepatu ternama, tentunya ada harga yang harus di korbankan dalam memangkas ongkos produksi. Kualitas materialnya dan produksi pun tentu ditumbalkan, dibanting hingga ke level terstandar atau bahkan dibawahnya guna menekan modal. Melahirkan pertanyaan sinis tentang bagaimana ketahanan dan lama daya guna sepatu yang di merasa punya hak untuk dibanggakan seluruh penduduk Indonesia lewat kedok jargon #LocalPride? Tagar usang yang setidaknya dapat digunakan lebih bijak dan bertanggung jawab oleh setiap produsen. Atau setidaknya produsen punya rasa tahu malu dan menanggalkan sifat pengecut yang berkedok rapih tertutup kampanye membumi bertajuk #LocalPride ini demi menutupi kualitas bobrok produk yang diciptanya.

Selain masalah-masalah di atas, masalah lain yang cukup riskan ialah bentuk dan corak sepatu yang terlihat tidak punya cukup inovasi bernas dari yang sudah ada. Pakem bentuknya seringkali berkiblat pada gaya klasik serta kasual a-la Converse CT 70’s, Vans Oldskool, Vans Authentic dan Nike SB. Mayoritas merek dan tipe yang beredar sejatinya tidak banyak berselisih pada bentuk, pola, hingga lekukan yang delapan puluh persen modelnya terlihat sama persis ibarat buah tiruan dari produk-produk brand berkaliber superior seperti yang terbilang belaka.

Segala carut marut, taktis dan ragam akal promosi yang terjadi dalam lingkup kecil brand sepatu lokal era ini diurai singkat. Pandangan sempit narasi ini sekecil ujung kuku, besaran nya jauh jika dibandingkan kelut dinamika nyata yang sedang berlangsung di pasar detik ini. Sedikit sarkas yang disaji hanyalah senggolan bagi brand-brand tidak layak jual dan punya mental peniru. Di balik yang buruk, tentunya ada brand-­brand sepatu lokal yang benar kualitas tingginya dengan segala material kelas wahid dan dibalut dedikasi di setiap  jahit, lem dan sol di kedua pasangnya. Ngomong-ngomong, disain sepatu Ventela kok mirip banget Converse, ya?