Bodohnya Pembulian

Hal tsersebut merupakan hasrat terpendam seseorang maupun sekumpulan orang sirik yang bertujuan untuk menjatuhkan orang yang mereka anggap layak untuk dijatuhkan. Hal ini sedang menjadi tren negatif di kalangan masyarakat Indonesia, sejak 10 tahun terakhir. Bodohnya pembulian.

Ya, anggaplah sejak Facebook datang ke negeri ini tahun 2007, dan ketika gegap gempita-nya Twitter terasa menjalar di Nusantara pada tahun 2008. Lalu apakah ini bisa berdampak buruk terhadap orang yang kena buli? Oh, tentu saja sangat. Mereka bisa menjadi pribadi yang sangat terpuruk, seperti tidak memiliki harapan, dan semua itu bisa memutuskan tali rantai kepositifannya. Begitulah akibat dari bodohnya pembulian.

Seorang teman yang pernah kena Buli di Facebook oleh puluhan ribu orang bilang kepada tim Vantage, bahwa dia harus bolak balik ke psikolog dan psikiater selama hampir 2 tahun untuk memulihkan kembali mentalnya yang sempat terganggu, dan hatinya juga sempat ikut berantakan, akibat serangan teks di social media yang tertuju kepadanya, dan dilakukan secara sporadis. 

Di kemudian hari sempat terjadi perenungan, apakah orang-orang yang melakukan pembulian ini menyadari bahwa yang telah mereka lakukan telah merugikan harkat hidup seseorang, dan bisa membuat seorang makhluk akan merasa hidupnya kelabu untuk selamanya. Itu sebenarnya yang ingin kami bahas. Bahwasanya setiap makhluk berhak untuk hidup bahagia. Dan, jika ada kesalahan yang pernah seseorang lakukan, hingga menyinggung banyak pihak, bukanlah pada tempatnya jika sekumpulan orang melakukan teror luar biasa terhadap orang yang khilaf tersebut, sehingga dia seperti dimatikan kehidupannya, karena alangkah eloknya jika ini disampaikan dalam sebuah bahasa komunikasi yang positif, tanpa membuat orang tersebut merasa jatuh tersungkur ke dalam got yang membuat dia merasa kotor.

Sekali lagi kami hanya ingin mempertegas, bahwa hidup di dunia tidaklah lama, apalagi manusia, ini bukan soal hubungan manusia, namun lebih kepada bagaimana kita berkehidupan sosial di muka bumi ini agar menjadi makhluk yang lebih menyenangkan, serta sedikit berguna, saat menjalani kehidupan. Bukan pula soal karma, lebih kepada menyelaraskan keindahan-keindahan unsur dunia, untuk menjadi sesuatu yang membuat nyaman seluruh makhluk di segala penjuru.