Berbagai Konser di Jakarta Yang Akan Membuat Hipster Nganga Bego Karena Ketidaktauannya

Selama kurun waktu dari 70-an hingga 2008, rerata konser yang pernah diadakan di Jakarta merupakan panggung-panggung penuh makna yang diisi oleh berbagai musisi serta group papan atas dunia antitesis hipster.

Ada Deep Purple, sekelompok pakar hard rock asal Inggris Raya yang pernah dibawa Peter Basuki pada tahun 1975 ke Jakarta untuk menggeber sejumlah tembang fenomenalnya yang sungguh kampiun pada era itu. Dua hari manggung di Stadion Senayan memakan korban kematian salah satu kru bernama Patsy Collins, yang diberitakan mati akibat terlalu mabuk, sehingga dia jatuh tersungkur dari lubang lift Hotel Sahid Jaya setinggi 8 meter yang belum selesai pembangunannya. Kala itu hotel tersebut di beberapa lantai atasnya memang masih dalam tahap penyelesaian. Informasi ini saya dapatkan langsung dari sang promotor, Peter Basuki.

Lalu pemain bas mereka, Glenn Hughes, oleh polres setempat sempat ditahan semalaman untuk dimintai keterangan, karena polisi yang menangani kasus ini mencurigai ada keterlibatan para personil Deep Purple dalam kematian Patsy. kemudian beberapa jam sebelum melakukan konser di hari kedua para personil dipanggil untuk membebaskan Glenn dengan tebusan sebesar 500 dollar, di mana Jon Lord (kibor), David Coverdale (vokal) dan kawan-kawan nongkrong kebingungan di Mabes Polri demi Berita Acara Pidana kasus gaje ini. Dan ketika malam harinya mereka manggung, terjadi kekacauan luar biasa, yang disebabkan oleh keasal-asalan keamanan dalam merespon kehebohan penonton.

Anjing-anjing galak dilepas, banyak korban yang tergigit ganas hingga berdarah-darah, dan sebagian audiens perempuan yang berasal dari Jakarta International School mendapatkan perlakuan tak senonoh, alias tindak keji pelecehan seksual dari para penonton alay di era itu. Oh ya, sebelum lanjut ke cerita selanjutnya, bagi kalian yang tidak tahu lagu Deep Purple, mungkin “Smoke On The Water” adalah salah satu hal terfamiliar yang pernah terjadi di dunia seni. Ketika kalian mencari lagu ini di Spotify maupun YouTube, pasti dalam seketika telinga Anda akan langsung akrab dengan intronya.

Tambahan sedikit, band ini yang pertama kali mempopulerkan lagu “Hush” milik Billie Joe Royal, sebelum di era 90-an band psikedelik romantik asal Inggris, Kula Shaker, merekonstruksi kembali lagu ini. Kepada saudara saudari yang terbiasa memapar kadar acid LSD dengan mendengarkan Kelompok Penerbang Rocket atau Stars And Rabbit, atau terbiasa berimajinasi mabok anggur dengan lagu-lagu Indie yang dikoplokan secara generik, sebaiknya tarik mundur dulu perseneling gigi kendaraan imajinasi Anda menuju awal 70-an, di mana pujaan Opa dan Oma Anda semua: Bangun Sugito aka Gito Rollies, Ahmad Albar, dan Ucok AKA, menganggap para personil Deep Purple adalah segalanya.

Tak ketinggalan, duo pangeran dangdut terbesar sepanjang masa di negeri ini dari dulu hingga sekarang, yaitu Rhoma Irama dan A. Rafiq, menjadikan Deep Purple sebagai patron baik dalam bermusik maupun bergaya. Kesemuanya adalah cikal kultur dari segala yang Anda pakai sekarang ini. Jadi matilah kau Hipster, jika menganggap petualangan kalian dari konser ke konser hari ini sudah menjadi cetak biru yang bisa dibawa ke surga untuk dijadikan portfolio khasanah berkesenian semasa Anda hidup di dunia.

Kemudian ada Sepultura di 1992 yang berhasil membuat para insan pengoleksi kaset band-band bertempo cepat merasa dianugerahi sebuah pertunjukan mewah kelas internasional. Pada saat itu jalanan di TB Simatupang masih seperti semi gurun, karena didominasi oleh bentangan tanah merah nan merekah legit bak latar belakang video-video musik Manowar. Lalu di sepanjang jalan Antasari hingga menuju tempat pertunjukan berlangsung, yakni Stadion Lebak Bulus, dipenuhi oleh lalu lalang Truk Trailer serta Tronton yang mengangkut sebagian besar para calon penonton Sepultura. Mereka saling bertegur sapa secara hangat, lalu saling tebeng menebeng menjadi satu, sehingga terlihat begitu kompak saat antri dan memasuki gerbang Stadion.

Tak lupa, telernya pun juga dibagi rata, satu jengkang, semua jengkang. Hal itu bisa dilihat dari sesaknya toilet, di mana orang silih berganti masuk demi melakukan ritual jekpot Vodka Singa Gepeng yang telah diminum sebelum memasuki arena konser. Bagi Anda yang juga menjadi saksi konser ini, pastinya akan lumayan mahfum dengan cerita barusan.

Metallica di 1993 pun menyisakan cerita yang sama, hanya saja ada bumbu kerusuhan yang disinyalir merupakan pergolakan iseng belaka dari kawula muda punk metropolis pada saat itu. Sehabis konser ini berlangsung, kawasan perumahan di Pondok Indah Jakarta menjadi lumayan mencekam akibat gangguan punk rocker alay zaman itu. Oknum-oknum tersebut seperti serigala depresi, yang asal-asalan melempari rumah orang, membakar ban, dan menghancurkan area perniagaan yang berada di kawasan mentereng ini.

Hal itu menjadi fenomena gelap kebrutalan masa lampau pemuda tanggung era lalu dalam sebuah konser yang dilakukan di Jakarta. Sekilas seperti mengulang tragedi Deep Purple di Stadion Senayan. Mengenaskan, namun dibiarkan. Ya, entah siapa yang bego, hingga terjadi pembiaran seperti itu. Namun bagi sebagian besar penonton, sesungguhnya kegelian terbesar dari konser ini terdapat pada pemilihan MC-nya, yakni Mi’ing Bagito, yang belakangan kita kenal sebagai anggota DPR RI dengan nama Dedi Gumelar. Yucks. Ini adalah salah satu hal terabsurd yang pernah terjadi di dalam sebuah konser. Pelawak diberi tugas untuk membuka acara.

Kemudian ada Sting yang pernah singgah di JHCC tahun 1994 saat dia melakukan tur “Ten Summoner’s Tales” album. Konser berlangsung rapi jali dan elegan tanpa gangguan. Standar konser musisi insaf yang mulai sadar akan kepentingan berinteraksi dengan semesta agar segala sesuatunya berjalan dengan benar tanpa perlu macam-macam. Sehingga dimanapun Sting melakukan konser, dari awal hingga akhir acara harus positif tanpa ada cela, sesuai dengan olahraga yoga yang dia tekuni sejak era ini.

Lalu ada Green Day pada tahun 1994 yang bermain di JHCC, di mana terjadi sedikit kerusuhan yang menyebabkan beberapa kaca di tempat itu pecah-pecah. Juga Alternative Nation pada tahun 1996 di mana Nugie yang tampil sebagai pembuka Sonic Youth, Foo Fighters, dan Beastie Boys, diminta turun oleh penonton dan dilempari botol Aqua berisikan air kencing oleh mereka yang merasa Nugie tak pantas berada di panggung panas itu. Lagian panitia juga kurang kerjaan, pake ngajak Nugie jadi pembuka para Tuhan musik alternatif. Huh.

Setelahnya ada Bjork, yang menjadi penutup terindah era terbaik konser para bedebah pemburu hiburan tengah zaman, yang memberikan kemampuan terbaiknya di Tennis Indoor Senayan pada bulan Februari tahun 2008. Ini benar sungguh terjadi, penyanyi perempuan yang penampilan serta cara bernyanyinya berusaha ditiru secara mati-matian oleh Elda Suryani sang biduan Stars and Rabbit ini, sungguh melakukan panggung terakhir terbaiknya di ibu kota Indonesia. Terharu. Terharu karena Bjork merelakan waktu terbaiknya di Jakarta, dan terharu akibat Hipster negeri ini semakin terlihat bego saat menunjukan playlist kehipsterannya di acara-acara Karaoke Selatan Jakarta.