Benazir Bhutto merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri di Pakistan, negara muslim paling banyak di dunia setelah Indonesia. Di usianya yang ke 35 tahun, perempuan kelahiran Karachi, 21 Juni 1953 tersebut, terpilih melalui pemilihan umum dari Partai Rakyat Pakstan (PPP) yang menyuarakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial, kesehatan, serta diskriminasi terhadap kaum hawa.

Benazir menjabat sebagai Perdana Menteri di bawah kepemimpinan Presiden Ghulam Ishaq Khan. Namun, kurang dari masa jabatannya, sang Presiden menggulingkan Benazir melalui dukungan militer.

Di tahun 1993, Benazir Bhutto terpilih kembali sebagai Perdana Menteri dan memimpin selama 3 tahun, sebelum jabatannya diberhentikan di tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa saat itu, Farooq Leghari.

Serangan serta tantangan yang dialami oleh Benazir Bhutto tak berhenti hingga di situ. Ia dituduh melakukan korupsi dan pencucian uang negara di Bank Swiss yang mengakibatkan suaminya, Ali Zardari, dipenjara selama delapan tahun. Padahal dirinya tidak pernah terbukti bersalah.

Kematian Benazir Bhutto hingga sekarang menyimpan kejanggalan sekaligus misteri tak bertepi. Di mana Benazir menjadi korban penembakan sekaligus tragedi bom bunuh diri, dari seorang pria Taliban berusia 15 tahun bernama Bilal, pada tanggal 27 Desember 2007. Saat kejadiaan naas tersebut berlangsung, Benazir baru saja merampungkan kampanye pemilihan umum Pakistan di Rawalpindi, dalam rangka pencalonan dirinya sebagai Perdana Menteri untuk kali ketiga.

Sebelum penembakan itu terjadi, kelompok Taliban sempat melakukan percobaan pembunuhan terhadap Benazir pada bulan Oktober di tahun yang sama. Namun saat itu Benazir selamat, tapi upaya bom bunuh diri itu menewaskan 130 orang.

Tragisnya tidak hanya Benazir yang tewas terbunuh. Saudara laki-lakinya, Murtaza, yang memimpin kampanye melawan pemerintahan militer Pakistan di era 90-an, tewas menjadi korban penembakan pada tahun 1996.

Saudara laki-laki lainnya dari Benazir yang turut tewas terbunuh adalah Shahnawaz. Di mana politikus ini ditemukan meninggal dunia di apartemen French Riviera, Cannes Perancis, pada Juli 1985. Sungguh rentetan pembunuhan yang terencana, dan mengarah terhadap keluarga Benazir.

Menurut penulis Tariq Ali dalam buku The Duel: Pakistan on the Flight Path of American Power, yang dirilis tahun 2008, istri Shahnawaz mengklaim sang suami tewas karena menenggak racun. Hal ini semakin membingungkan masyarakat.

Namun, Benazir dan keluarganya tidak serta merta percaya terhadap pernyataan tersebut, dan mereka pun langsung melakukan penyelidikan. Benazir menemukan bukti bahwa kekerasan terjadi di ruangan Shahnawaz, dan mendapatkan bahwa dokumen-dokumen pribadi miliknya telah digeledah dalam kondisi teracak-acak.

Seluruh peristiwa tragis yang menimpa Benazir dimulai sejak masa kepemimpinan ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, sebagai Perdana Menteri dan Presiden Pakistan yang tewas digantung oleh pemerintah militer Pakistan.

Kematian Benazir Bhutto membuat kerusuhan sipil, yang menyebabkan para pendukungnya turun ke jalan untuk memasang blokade jalan, menyalakan api, dan menyerukan Anti-Pakistan.

Benazir semasa hidupnya selalu mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat karena dianggap sebagai pejuang demokrasi dan juga hak-hak perempuan. Benazir merupakan pemimpin yang melawan kekerasan terhadap perempuan, dan menolak diskriminasi serta segala bentuk pelecehan terhadap kaum perempuan.

Lantas setelah Benazir Bhutto, siapa yang akan menjadi Perdana Menteri perempuan selanjutnya? May she rest in peace.

Sumber foto: globalvillagespace.com