Beberapa Hari Sebelum Malapetaka Itu Datang

Kita semua berada di batang batang damai yang selalu tersemai selama beberapa tahun belakangan ini. Meski ada cidera di sana sini, namun keharmonisan yang terjaga terbilang cukup konsisten, dan terdapat kekompakan dengan nilai menuju sempurna, dalam penataannya. Dan itu pun dilakukan secara guyub, oleh makhluk berjuluk manusia.

Hari itu beberapa orang di pedesaan dan pedalaman masih terlihat menyemai hasil tani pun kebun demi kelangsungan hidup yang lebih berseri, sentosa, serta menggembirakan, yang tujuan akhirnya adalah untuk kesejahteraan bersama secara merata. Sementara di sisi sisi kota, keriangan terus menerus bergemuruh menjadi celoteh indah soneta metropolis, di mana suaranya muncul melalui bar-bar, club-club, kafe-kafe, pun resto-resto, utamanya dari Selatan dan Pusat ibu kota.

Dan di lain tempat, kuntum-kuntum pendidikan, dijalankan siswa siswi dengan penjiwaan yang semakin terlihat sumringah, dalam menghadapi buih-buih pelajaran turunan para guru-gurunya, yang mereka tabung demi masa depan nan gemilang, untuk kesejahteraan mereka di beberapa belas tahun ke depannya.

Kondisi perekonomian yang carut marutnya kadang tersedak, kadang memuai, seakan menjadi warna-warna etos kehidupan yang memang tercipta untuk dinikmati dengan hati bersahaja oleh para insan penghuni bumi. Di mana arti kerugian bukanlah sebuah momok yang tidak terlalu mengerikan juga membuat kecewa.

3, 2, 1 hari sebelum durja gelombang masif penaklukan dunia oleh Dajjal berkedok Corona, kita semua masih santai, bahkan teramat santai. Sesama manusia masih saling memberikan pengaruh positif untuk dunia yang lebih baik, dan hampir dari kita semua saling memberikan contoh pekerti terhalus terhadap kolega, keluarga, orang tidak dikenal, semesta, binatang, bahkan negara asing.

Dan, hingga akhirnya petaka terberat abad ini muncul meluluhlantakan rongga-rongga semangat positif yang sudah terajut dengan cukup baik, hasil kerja sama segala pemilik dan pengelola bumi, yang harusnya sudah sampai ke titik penilaian tiga perempat epik.

Beberapa hari sebelum malapetaka itu datang, kita masih teramat riang. Beberapa hari sebelum malapetaka itu datang, pola berbincang-bincang kita masih teramat menyenangkan. Beberapa hari sebelum malapetaka itu datang, perkawanan aku kamu dan mereka semua hangatnya sungguh hangat.

Oh, waktu yang tercakup sebagai ‘beberapa hari sebelum malapetaka itu datang’ sungguh tak ternilai harganya. Sungguh.