Gita Terbangsat Teruntuk Barbarian Biadab Penghardik Korban Corona

Tidak ada yang mampu mengelak kodrat alam kala sebuah pandemi menerpa seisi lapisan dunia yang kian hari kian menua umurnya. Bahkan tidak untuk guru besar kedokteran se-Maha Ibnu Sina ataupun sekaliber Menteri Kesehatan Negara Indonesia. Semua yang mendera adalah musibah bagi para korban yang tidak sama sekali disengaja dan diduga tularannya. Motivasi dan doa jadi stimulan termanis yang mereka butuhkan. Sementara kala duka dan cemas menghinggapi otak mereka yang sedang berjibaku untuk sehatnya, sebagian manusia berotak dangkal pun tidak beradab berlaku sebaliknya. Laku durjana berupa cerca dan fitnah yang mereka tebar dengan lancang tentang para korban yang positif statusnya.

Pandemic Corona Covid-19 jadi musibah yang menerpa seluruh bagian dunia. Penularannya yang cepat dan tidak terkendali jadi masalah serius semua pasang mata sepanjang 10 pekan terakhir. Berbagai langkah preventif dilakukan demi menekan laju korbannya. Namun apa daya, bagi beberapa orang yang kurang beruntung di bumi pertiwi virus ini tidak terelakan jangkitnya.

Terhitung sejak laporan pasien pertamanya, COVID-19 di Indonesia telah mencapai angka 300 lebih pasien positif. Beberapa dari korban atau pasien positif tersebut harus rela menghabiskan waktu berharganya di ruang isolasi guna mengakhiri rantai penyebarannya. Hampir semuanya tidak tahu bagaimana insan bernyawa mereka bisa terjangkit. Mereka semua adalah korban, yang tidak ada setitikpun salah yang menghinggapi diri mereka.

Sementara beberapa oknum tidak beradab mempermasalahkan itu semua. Beberapa oknum dengan tingkat kecerdasan rendah yang dengan teganya menyebarkan data pribadi para korban di sosial media. Berpaket lengkap dengan teks provokatif dan nada sumbang tidak manusiawi di setiap bait kalimat postingnya. Sebuah perbuatan keji dan amoral yang jelas mencerminkan telah busuknya hati nurani dalam raganya.

Entah apa yang ada dalam tengkorak para manusia dungu ini. Entah kemana simpati dan empati yang lazimnya ada dalam diri setiap makhluk bernyawa. Mungkin penjara adalah sebaik-baiknya tempat untuk mereka. Atau bahkan jahanam yang telah mencatat tiap harokat nama-namanya. Semoga kalian nyaman terlelap di sana, dengan bantal dursila dan selimut hina yang kalian cipta.