Apa Jadinya Money Heist Tanpa Tokyo?

Ursula Corbero mengingatkan akan kebengalan Winona Ryder di Heathers, kesadisan Juliette Lewis dalam Natural Born Killer, dan keangkuhan Joice Erna untuk Suci Sang Primadona.

Karakter Tokyo adalah kekuatan utama serial terpopular di layar kaca datar saat ini: Money Heist. Pembangunan karakter yang dilakukan dari detik awal kemunculannya, merupakan adikarya sang sutradara Alex Pina dalam mempercantik sekaligus ‘merusak’ secara indah imajinasi para penonton.

Pertama, Tokyo menggunakan lelaki sebagai media dia untuk menutupi segala kekurangannya. Kedua, Tokyo memiliki sifat impulsif yang berkobar-kobar di mana dia selalu merasa paling benar dalam semua keputusan. Kedua hal tersebut saling berkaitan, sehingga Tokyo kerap kali melakukan penyelamatan-penyelamatan bodoh terhadap pria yang dicintainya, yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat juga dia lakukan.

Tokyo adalah tokoh gagah berani, absurd, menohok, dan teramat kebal terhadap basa basi busuk, yang disertai gertak sambal oncom. Perempuan yang memiliki banyak aspek daya pikat ini akan menyerahkan segenap jiwa raganya demi kebaikan yang hakiki, apalagi jika hal tersebut berurusan dengan nilai-nilai persahabatan yang Tokyo yakini secara benar. Tokyo tahu betul “cara jahat yang paling baik”, dan sangat mengenal “jalan baik yang paling jahat”, dalam mengemban berbagai tugas dia sebagai salah satu The Heist.

Kontribusi Tokyo dalam memajukan popularitas Money Heist ibarat pengabdian Presiden kita tercinta terhadap Madam Banteng, dedikasi maksimal tiada henti dan rela pasang badan di dalam setiap permasalahan. Tokyo adalah sumber air dan api di dalam serial ini. Bayangkan saja kehidupan tanpa salah satunya, pasti kopong, kan?