Antara Pro dan Kontra Si Skuter Listrik, GrabWheels

Tahun 2019 menjadi awal bagi terwujudnya wajah baru kota tercinta, Jakarta. Banyak pembangunan yang sedang dilakukan pemerintah untuk mendukung pembaruan ini. Selain pembangunan dan penataan yang digarap oleh pemangku kebijakan, ada satu hal lain yang mencuri perhatian khususnya beberapa hari terakhir. Ya, kita semua tahu dialah GrabWheels. Sebuah moda transportasi berbasis aplikasi bawaan dari Grab yang sedang digandrungi masyarakat. Kehadirannya seakan menjadi fenomena baru. Ada yang mendukung, ada pula yang menolak keberadaan skuter listrik ini.

Muncul pertama kali pada bulan Mei lalu, GrabWheels ditujukan untuk menjadi alat transportasi jarak dekat. Sesuai namanya, layanan yang diusung Grab ini sudah terintegrasi dengan satu aplikasi bawaannya. Cukup dengan lima ribu rupiah, Anda bisa menikmati layanan GrabWheels selama 30 menit.

Meski tergolong baru, skuter listrik ini sukses menarik animo masyarakat untuk mencobanya. Banyak orang yang rela datang jauh ke tempat penyewaan GrabWheels, mengingat saat ini layanan tersebut hanya terdapat di beberapa tempat saja.

Sampai saat ini layanan GrabWheels baru tersedia di beberapa kawasan seperti Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Green Office Park (BSD City), Lippo Karawaci, Bintaro, Universitas Indonesia, Kawasan Gelora Bung Karno, dan beberapa lokasi lain di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Potret antusiasme masyarakat terhadap GrabWheels mudah anda temui di media sosial. Meski tidak hanya beroperasi di Indonesia, postingan dengan tema skuter listrik ini mayoritas datang dari warga Jakarta. Seperti halnya tren lain yang pernah ada, Grab Wheels juga berkembang menjadi tren yang dicari masyarakat. Banyak orang seakan berlomba untuk mencoba layanan skuter listrik tersebut.

Hal ini secara tidak langsung mengubah fungsi dari GrabWheels itu sendiri. Sebelumnya Grab Indonesia menghadirkan skuter listrik tersebut untuk menjadi alat transportasi alternatif, namun seiring berjalannya waktu GrabWheels berubah jadi sarana rekreasi baru di Jakarta. Inilah yang menjadi awal pro dan kontranya layanan milik Grab tersebut.

Di bulan ini saja sudah ada dua kontroversi yang bersinggungan dengan GrabWheels. Kasus pertama yang membuat masyarakat cukup geram adalah tertabraknya pengguna GrabWheels hingga tewas di kawasan Senayan pada 10 November kemarin. Sampai saat ini, kasus ini masih dalam penyelidikan kepolisian.

Tak lama setelah itu, kontroversi lain datang ketika sekelompok anak muda mengendarai GrabWheels di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Kejadian ini pertama kali diketahui dari akun resmi Bina Marga DKI Jakarta di Instagram. Akibat ulah sekelompok anak muda tersebut, lantai JPO di kawasan Gelora Bung Karno mengalami kerusakan.

Isu keamanan memang menjadi perhatian ketika GrabWheels mulai beroperasi. Melihat kebiasaan orang Indonesia yang belum sepenuhnya tunduk pada aturan. Mengendarai skuter listrik ini menjadi hal yang cukup riskan bila kurang pengawasan.

Sebenarnya pihak Grab Indonesia memberikan perhatian khusus pada aspek keselamatan di salah satu layanannya tersebut. Salah satunya dengan menyediakan helm yang sudah satu paket dengan skuternya. Namun, sering ditemui pengguna GrabWheels tidak menggunakan helm yang menjadi standar keselamatan.

Dilansir dari Kompas.com, Head of Public Affairs Grab Indonesia Tri Sukma Anreianno menjelaskan bahwa helm yang disediakan Grab banyak yang tidak dikembalikan setelah pemakaian. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa sering ditemukan pengguna GrabWheels yang tidak memakai helm.

“Tolong helmnya dikembalikan karena bisa dipakai sama pengguna yangkain. Sudah banyak sekali yang tidak kembali helmnya,” Ujar Tri saat memberikan keterangan perihal helm yang hilang.

Selain itu pihak Grab Indonesia juga mempersiapkan antisipasi lain untuk meningkatkan keamanan pengguna GrabWheels. Upaya tersebut dilakukan dengan memperbaharui sistem dimana kecepatan skuter listrik miliknya akan menurun secara otomatis jika melintas di area publik.

“Grab juga akan melakukan pembaruan teknologi yang akan menghentikan pengguna skuter di beberapa area, seperti area car free day, JPO (jembatan penyeberangan orang), dan lain-lain,” ungkap Tri menjelaskan teknologi baru di Grab Wheels.

Pemerintah Daerah DKI Jakarta juga menyiapkan peraturan khusus yang mengatur tata cara penggunaan skuter listrik. Peraturan ini meliputi area mana saja yang diperbolehkan untuk mengoperasikan kendaraan tersebut, dan tentunya mewajibkan setiap pengguna untuk memakai helm.

“Pergub (Peraturan Gubernur) akan rampung pada Desember tahun ini. Harapannya bisa diterapkan secepatnya. Selain itu, kami juga terus berusaha untuk meningkatkan mutu jalur sepeda supaya pengendara alat mobilisasi pribadi juga bisa menggunakannya dengan nyaman,” tutur Priyanto selaku Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub DKI Jakarta dikutip dari Kompas.com.

Berbagai antisipasi telah disiapkan berbagai pihak mulai dari Grab sebagai penyedia layanan GrabWheels dan Pemerintah untuk menjamin kenyamanan dan keamanan penggunanya. Namun itu semua akan sia-sia jika tak diikuti . Karena sedianya, GrabWheels diciptakan untuk memudahkan transportasi masyarakat. So, apa anda siap menggunakan skuter listrik ini sesuai aturan?