Antara Ahmad Dhani dan Young Lex

Pada seonggok malam tahun 1992, ketika menatap sebuah tayangan di Indosiar, nampak berkelebat 5 pemuda berambut koyak bak versi palsu kualitas wahid White Lion menyanyikan selurik tembang pop rock yang mereka beri nama ‘Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi’.

Nada-nadanya membuat perasaan pendengarnya menjadi haru. Hanyut akan lirik yang sederhana namun sarat makna. Meski berkisah mengenai teman baik yang dulunya sempat berhubungan dan kini hanya bersahabat, akan tetapi dalam syair tersebut dijelaskan bahwa mereka hingga sekarang tetap memiliki rasa ingin memiliki yang tak pernah terselesaikan. Nah, notasi-notasi brilian yang disemat oleh Ahmad Dhani ke dalam lagu ini sungguh teramat pas dengan lirik lagu tersebut. Nadanya berkelas, liriknya abadi. Sehingga walau dia beberapa kali terperosok dalam beberapa fase kehidupannya, sosok arogan ini tetap terselamatkan, karena dia dianggap sebagai salah satu penyelamat industri musik pop tanah air. Mungkin untuk selamanya.

Dhani tidak hanya berprestasi di lagu tersebut, ‘Cukup Siti Nurbaya’ menjadi tren awal sulur gitar yang berpadu dengan kord bolak balik ekstra jenius. Sementara ‘Cinta Kan Membawamu Kembali’ seolah menjadi penyelamat pop balada yang sebelumnya didominasi oleh lagu-lagu cengeng cipta karya Obbie Mesakh, Pance Pondaag serta cs. Belum lagi ‘Rein’ yang penuh kharisma. Lagu itu kaya akan asupan gizi nada. Ketiganya menjadi pilihan mixtape lokal teratas pada era tengah 90-an.

Sementara untuk urusan proyek pribadi – pria yang pernah digugat secara underground sesaat sebelum dia tampil pada acara pensi SMA 2 Bandung di tahun 1998 karena dianggap tidak menyukai musik grunge ini – malah berhasil mengangkat musik pop keras yang bernada ganjil melalui lirik antemik ini “yang muda mabok, yang tua korup, mabok terus, korup terus” di dalam tembang fenomenal ‘Distorsi’ milik Ahmad Band bentukan dia. Grup ini juga berpengaruh terhadap kelanjutan cerita manis pop rock nusantara, setahun setelah album pertama mereka ‘Ideologi Sikap Otak’ dirilis pada tahun 1998.

Pada pertengahan 2000-an kemudian muncul antitesis dari keindahan yang diprakarsai oleh Smokey Robinson, James Brown, Stevie Wonder, The Temptations, The Supremes, TLC, Tupac, Vanilla Ice, MC Hammer, Tupac, Eminem, Wu-tang Clan, Public Enemy, Snoop Dogg, Ice Cube, Beastie Boys, dan NWA. Dengah penuh percaya diri, muncul seorang pemuda yang berharap mendapat pengakuan sebagai rapper. Dia hadir ke permukaan dengan lagu-lagu bernotasi sederhana, berbaur dengan lirik-lirik sepele. Adalah Young Lex, yang di kemudian hari dalam momen-momen keemasannya berharap kepada publik agar citra pelaku bisnis disematkan kepadanya. Beliau pekerja keras yang berangkat dari kondisi nol besar. Dan hari ini sedang menikmati buah manis dari karya-karyanya yang sederhana. Di sini lebih kepada pengertian bahwa karya-karya dia tidak berusaha terdengar hipster, namun menjadi kontroversi karena kaedah faedah dari sebuah seni suara dan musik produksian dia, dianggap oleh sebagian orang terabaikan.

Karya ‘Single Woles’, ‘Delete Contact’, ‘Ini Gaya Gue’, ‘Lah Bodo Amat’, seakan tak terbendung oleh serbuan karya-karya lokal bercap jenial era 2000. Adikarya Young Lex tersebut melenggang dengan baik, walau secara lirik maupun musik ibarat Kufaku versi hip hop. Tidak ada yang salah, hanya saja pemikiran yang biasa terjejali oleh tembang dari Smokey Robinson hingga NWA, lalu disuguhi karya atas nama hip hop dengan model lagu seperti buah cipta Young Lex, kupingnya mungkin akan sedikit gatal mendengar track-track seperti yang telah disebutkan di atas barusan. Padahal notabene akar dari musik Young Lex sebenarnya adalah lakon lara indah semacam selorohan Tupac, Beastie Boys, hingga Eminem.

Ahmad Dhani dan Young Lex sama-sama kontroversi, arogan, dan jenius dalam versi berbeda. Yang dituangkan Dhani ke dalam musik serta liriknya merupakan kekuatan notasi penuh muatan visi serta misi. Sedangkan apa yang ditanamkan Young Lex ke lini-lini nada berbagai ciptaan dia lebih ke lirik-lirik polos, dangkal, seadanya, dan bermain-main di permukaan. Mungkin memang Young Lex seperti ingin berniat memperlihatkan kemampuan dia dalam mengolah hal-hal tidak berisi dan pretensius.

Pilihan dikembalikan lagi kepada pasar negeri ini, yang sekarang lebih sering berpatokan terhadap apa yang mereka lihat dan dengar di YouTube. Apakah berniat memelihara kebagusan yang telah ditanam oleh Ahmad Dhani, atau berenang di kolam cetek yang sudah dibenihi oleh Young Lex.

Pokoknya jangan sampai
“Lo akan nyesel saat lo dengerin ini
Lo akan tau saat lo engga di sini”