17 Agustus 2020, di hari bersejarah ini Indonesia merayakan hari lahirnya yang ke-75 sebagai suatu bangsa berdaulat dan merdeka atas tangan, keringat dan darahnya sendiri. Kemerdekaan yang diraih tentu tidak datang begitu saja, perlu banyak pengorbanan, baik dalam bentuk perjuangan maupun cara-cara diplomatis yang harus di tempuh para pahlawan pendiri bangsa.

Dari banyak nama pahlawan yang berjasa besar melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, kami menyorot dua nama besar yang sangat menarik jika dikisah-singkatkan berbagai patriotisme pun keputusan-keputusannya selama periode pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Dua nama besar yang wajib teringat selalu, beliau adalah A.A. Hamidhan dan Drs. Yap Tjwan Bing.

Beribu upaya ditempuh demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Beragam cara mulai dari peperangan gerilya hingga upaya diplomatis nan formal digalakan. Beredarnya kabar jika pada tahun 1945, Jepang kian terpuruk akibat kekalahannya di Perang Pasifik, membuat nama baik negara kolonial tersebut kian terancam. Untuk itu, desakan agar segera dilakukan proklamasi kemerdekaan semakin menyeruak di segala penjuru negara.

Untuk menghindari gesekan yang semakin memanas, Jepang pun membentuk sebuah badan khusus demi merealisasikan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagaimana janjinya. Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pun berdiri. BPUPKI yang menjadi wadah berkumpulnya para founding father pun menghasilkan beberapa poin rancangan undang-undang serta piagam yang jadi “bahan bakar” kemerdekaan Indonesia.

Tugas BPUPKI pun dianggap selesai. Singkat cerita, badan tersebut pun berubah nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang beranggotakan 21 orang tokoh utama pergerakan nasional Indonesia yang mengusung nama Soekarno sebagai ketuanya. PPKI terdiri dari tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai etnis dan wilyah di Indonesia. Di PPKI lah nama A.A Hamidhan dan Drs Yap Tjwan Bing tergabung. Hamidhan sebagai perwakilan dari Kalimantan, dan Tjwan Bing sebagai perwakilan etnis Tionghoa.

A.A Hamidhan

Dua hari selepas pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 yang dilakukan Soekarno-Hatta, digelarlah sebuah pertemuan khusus yang membahas hal-hal mendesak perihal ketatanegaraan. Untuknya, berbagai utusan daerah yang tergabung dalam PPKI pun dilibatkan. Pertemuan yang berlangsung pada dini hari itu pun menghasilkan sebuah putusan yang mendelegasikan para putra daerah yang tergabung dalam PPKI sebagai Gubernur pertama di wilayahnya masing-masing. Semua utusan menerima, hanya satu yang menolak yaitu Anang Abdul Hamidhan.

Penolakan A.A Hamidhan membuat seisi ruang rapat bertanya-tanya, termasuk sang Proklamator Mohamad Hatta yang terheran-heran dibuatnya. A.A Hamidhan dengan tegas menyatakan, penolakan dirinya pada mandat tersebut dikarenakan dirinya ingin tetap berkarir sebagai seorang Wartawan. Hamidhan pun mengusulkan jabatan Gubernur Kalimantan tersebut ke nama yang lebih kompeten, yaitu Pangeran Muhammad Noor.

Tak lama berselang tepatnya pada 24 Agustus 1945, tokoh pers Indonesia ini pun pulang ke Kalimantan. Dengan menumpang sebuah pesawat Jepang, A.A Hamidhan menjadi pembawa berita Kemerdekaan Indonesia pertama di tanah Borneo.

Di masa pasca-kemerdekaan A.A Hamidhan menjadi seorang pewarta yang vokal terhadap berbagai keputusan pemerintah. Bersama surat kabar lokal miliknya, dia kerap mengkritisi berbagai regulasi yang dibuat Pemerintah Pusat pada berbagai hal, terutama dalam hal kebebasan pers yang menurutnya kurang dari semangat Proklamasi.

Yap Tjwan Bing

Yap Tjwan Bing merupakan seorang politikus keturunan Tionghoa-Indonesia yang aktif menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Kontribusi besarnya di banyak tempat pun membuat tokoh ini terpilih sebagai salah satu anggota PPKI sebagai perwakilan etnis.

Selepas kemerdekaan Indonesia, Yap bergabung dalam berbagai organisasi politik. Yap pun dipilih sebagai salah satu anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan mendirikan Chung Hwa Chung Hwee (cikal bakal Persatoean Tionghoa) sebagai upaya mempersatukan etnis Tionghoa dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.

Berbagai macam pergolakan politik Indonesia pasca-kemerdekaan tidak membuat semangat Yap luntur. Karir politik Yap Tjwan Bing pun terus bergulir. Dirinya pun sempat bergabung dengan anggota legislatif dalam Republik Indonesia Serikat, DPR Sementara, hingga menjadi kader di partai dominan seperti Partai Nasional Indonesia, sebelum akhirnya mengundurkan diri tahun 1954.

Yap juga punya jasa besar dalam banyak organisasi non-politik. Dirinya tercatat sebagai anggota pertama Ikatan Apoteker Indonesia, punya kontribusi sebagai Dewan Kurator ITB, serta menjadi salah satu pendiri fakultas farmasi Universitas Gadjah Mada.

Namun patut disayangkan, kerusuhan berbasis rasial yang terjadi di Bandung, 13 Mei 1963 membuat keluarga Yap menjadi salah satu korbannya. Kehilangan harta serta trauma yang membekas di keluarganya mengharuskan Yap meninggalkan tanah air harus untuk hijrah ke Los Angeles Amerika Serikat. Hingga akhir hayatnya, Yap Tjwan Bing tidak pernah menginjakan kakinya lagi di tanah air, dan meninggal pada 26 Januari 1988 di Los Angeles, Amerika Serikat.