Synchronize Festival 2019: Dari Eco Friendly Hingga Mabuk di Akhir Pekan

Jakarta Pusat punya agenda seru minggu lalu. Bertempat di bekas bandara yang dialih fungsikan menjadi lahan besar, gaung Synchronize Festival kembali sedia memberi sesembahan untuk penikmat dan pemburu adiwarna karya seni pertunjukan musik Indonesia.

Di selenggarakan 4,5,6 Oktober 2019, Synchronize Festival 2019 memang pantas dipilih untuk mereka yang ingin melepas akhir pekan dengan euforia dan beragam kesenangan-nya. Jajaran musisi anyar Indonesia dikurasi dengan cemerlang serta dibalut ambience festival yang belum ada tandingannya selama beberapa dekade ini. Synchronize memang tak pernah gagal memilih deretan penampil, nama baiknya tidak perlu dipertanyakan. Teringat awal Maret saat tiket early bird 3 days pass seharga 250.000 rupiah dirilis, belum berselang sejam, logo sold out langsung tercantum di website resminya.

Jika dilihat, tahun ini Synchronize menghadirkan konsep eco friendly yang cukup menarik mata penggiat lingkungan. Sebuah konsep yang patut dihadirkan di tengah kecemasan khalayak pada gilanya penggunaan plastik yang kian hari kian membuat harga sedotan stenlis makin mahal. Pembawa tumbler juga mendapatkan privilege lebih, water station disediakan, air gratis untuk para pengkhawatir lingkungan.

Cukup berbicara tentang eco friendly. Mari sedikit menyoroti panjangnya antrian Anggur Orang Tua yang mengekor hingga bermeter-meter kebelakang. Harga 2 kali lipat tak jadi masalah, semua terlihat kalap ingin mabuk. Ini mungkin jadi alasan mengapa para hadirin berjoget tanpa malu.

Aneka brand minuman beralkohol laris manis. Mulai dari booth Vibe, Anggur Orang Tua, Intisari, Guinness hingga Jack Daniels, semua ramai diserbu yang akhirnya membuat tidak ada kasir yang terlihat makan gaji buta. Botol air mineral berisi cairan hitam kemerah-merahan menjadi starter pack para pengunjung.

Tiga hari sing along, berjoget dan diterpa alkohol memang melelahkan. Beberapa diantara muka yang saya temui tidak absen hingga hari terakhir, terdengar habis suaranya. Tidak jarang pula yang terlihat ada goresan merah di punggung bekas kerokan. Tapi semuanya tetap semangat hingga usai acara.

Hari ketiga menjadi puncaknya. Kembalinya beberapa band yang sempat hiatus mungkin jadi pecutan sendiri beberapa kalangan harus hadir. Tidak lupa bagaimana padatnya sesepuh di stage XYZ menanti Teenage Death Star. Hingga animo milenial menantikan Noah (kharisma Ariel memang tak lekang oleh video biru)

Lewat tengah malam dentum semaraknya Synchronize Festival belum selesai. Penampil akhir masih sama seperti tahun kemarin. Diskopantera dan kawan-kawan masih sangat dapat diandalkan. Di segala penjuru terlihat orang-orang yang tenggelam dalam Anggur Orang Tua, tergeletak lemas. Toilet, tong sampah, hingga sela gorong-gorong jadi tempat langganan memuntahkan isi perut orang-orang yang kelebihan batas ketika menenggak minuman beralkohol. Beberapa bahkan hingga di papah tim medis. Tapi tenang, semua aman terkendali.

Synchronize Festival 2019 memang dapat dicap sebagai tempat berkumpul banyak orang yang ingin menikmati suguhan musik mempesona dan menghibur relung hati terdalam sambil menikmati minuman memabukan di akhir pekan. Selayaknya festival, semua orang ingin gembira ria. Jadi, bagaimana tahun depan?

Foto : Johannes Jodhy Prasetyo www.instagram.com/jodhyprasetyo