Subkultur Menurut Fred Perry

Sajian musik punk-rock rapi dari Zigizaga dan pengkurasian lagu-lagu danceable menyenangkan dari Agrikulture membawa kami kembali ke Kilo Lounge. Lantai bawah tanah lounge berkelas di kawasan Gunawarman itu seketika berubah layaknya bar underground berisikan manusia-manusia haus gaung musik. Dalangnya adalah Fred Perry, yang mengurasi pertunjukan bertitel SUBCULTURE.

Fred Perry nampak ingin memperlihatkan kedekatannya dengan komunitas melalui pentas ini. Entitasnya sebagai brand wajib beberapa subkultur sarat penganut, dipestakan malam itu. Paduan band punk rock dan musik elektronik menjadi pembuktian lintas ide mereka. Cukup berhasil kalau boleh dibilang. Beberapa pengunjung yang hadir memang muka-muka dedengkot subkultur Jakarta, dari kalangan Mods hingga Skinhead, dari jejeran pengultus hipster hingga rombongan penggelut gaya konservatif.

Agrikulture di SUBCULTURE Vol 1 - Fred Perry
Agrikulture di SUBCULTURE Vol 1

Zigizaga didapuk sebagai pembuka. Suara serak penuh gelora dari Rika sang front woman dibalut dentum bass padat veteran rock Indonesia sekelas Eka Annash menggetarkan lantai dasar Kilo Lounge. Tiga lagu pertama belum cukup mengundang pogo, penonton terasa masih terlalu malu untuk memadati bibir panggung. Lepas lagu ketiga semua berbeda, balutan musik kebut sajian Zigizaga memang bukan recehan, dibawakan rapi, padat penuh gelora. Energinya tersalurkan kencang menerobos kanal telinga, haram hukumnya jika tidak bergerak merespon iramanya. Teaser tersebut cukup membuat berkeringat.

“Menurut gue campaign Subculture di acara ini cukup tersalurkan ya. Karena ngga hanya dari musik, semua disiplin dan latar belakang bersatu di sini. Semangat persatuan nya dapet banget! Fred Perry juga keliatan serius banget di acara ini, semuanya rapi.” Ujar Rika (vokalis Zigizaga) ketika diwawancara usai turun panggung.

Selepas Zigizaga giliran Agrikulture naik ke altar perhelatan. Trio DJ kawakan ibu kota ini membuktikan kelasnya. Di hadapan penonton yang terdominasi usia satu generasi lebih muda, trio yang masih energik ini terlihat masih ingin membuktikan diri bahwa nafasnya masih panjang terhadap skena elektronik nusantara. Kurasi lagunya masih brilian, forsanya mengundang dansa. Intensitasnya pun kian malam semakin naik, baur pilihan musik disco, new wave hingga ke post-punk nya masuk diterima semua pendansa. Kualitasnya ketiganya memang tidak perlu diragukan. Kendalinya kian moncer tanpa celah hingga ujung acara dengan transisi lembut tidak terduga.

Agrikulture di SUBCULTURE Vol 1 - Fred Perry
Agrikulture di SUBCULTURE Vol 1

 “Gue seneng banget sih vibe nya. Menurut gue tadi kita bertiga lumayan nervous. Karena ada Zigizaga yang mungkin musiknya rada berseberangan ya. Disini gue ditemuin sama anak-anak muda dan senior-senior juga.” buka Fandy, MC dari Agrikultur.

“Ini kan first campaign, first move nya. Menurut gue ini cukup ok. Ya lo enggak bisa raup semua orang dalam satu tangkepan ya. Menurut gue untuk pembukaan, buat awalan ini cukup bagus ya. Animonya juga luar biasa.” Tambahnya.

Fred Perry memang tidak main-main. SUBCULTURE volume awal ini menjadi pembuka yang cerkas. Sajian berisi di Kilo Lounge nya cukup menjadi panggilan alam bagi para penganut subkultur yang bertebaran di belantara kota untuk merayakan bersama. Sampai bertemu di rangakain acara, mates!