Java Jazz : Festival Tertua di Indonesia Era 2000-an Representasi Urban

Usianya sudah menginjak remaja, bagai manusia yang sedang menuju kedewasaan. Java Jazz Festival kian memperlihatkan trahnya sebagai pemimpin festival musik dalam negeri.

Jumat malam 28 Februari 2020, merupakan salah satu karunia terbaik bagi kehidupan di Jakarta, khususnya wilayah Kemayoran, tepatnya Jiexpo. Senior Citizen, Hipster, Jazz Hunter, Music Collector, Karaoke Enthusiast, bersatu guyub untuk merayakan kenikmatan Java Jazz.

Setiba Vantage di lokasi, antrian urban wangi, sudah mengular dengan rapi. Getaran menggembirakan telah menjalar ke pelbagai sudut tempat berlangsungnya acara. Di kiri kanan terlihat wara wiri ha ha hi hi penduduk ibu kota yang sedang memutuskan akan menonton siapa malam itu. Karena di Java Jazz 2020 ini ada 11 stage.

Keziah Jones menjadi pilihan pertama kami. Blues kental yang berpadu dengan Jazz untaian dia, kerap membuat adrenalin terpicu untuk melakukan dansa seronok. Hingga akhirnya memotivasi hasrat untuk membeli beberapa kaleng bir, sebagai partner joged. Sungguh sebuah awal yang gemilang dalam mengawali perjalanan Jazzy Night malam itu.

Phil Perry menjadi target berikutnya. Sesampai di Hall tempat Opa Phil mendendangkan tembang-tembang klasik buatannya, hati langsung trenyuh hanyut membiru terbawa kenangan kaset masa lalu. Banyak lagu Phil yang memang beken di era pemutar pita. Dia cukup memegang peranan penting dalam menghidupkan industri Jazz dunia. Konsistensinya kepada genre ini pada dekade 80 dan 90-an terbilang influensial. Di mana album-albumnya menjadi pembuka terhadap kuping musik internasional, agar Jazz menjadi semakin merakyat, dan dapat diterima sebagai pilihan selain pop. Phil berhasil masuk ke masyarakat pecinta musik melalui lagu-lagu Jazz nya yang diberi imbuhan pop.

Setelahnya, Bruno Major menjadi pilihan. Lintang-lintang Jazz Urban berkedok R N’B menjadi notasi andalan dia. Penonton lumayan terhipnotis oleh teknik rancak oleh vokal penyanyi ini. Nampaknya dia akan semakin besar di kemudian hari. Dan show dari Bruno, menjadi penutup yang tepat.

Hari kedua sesaat memasuki acara langsung dikuak oleh hampar pemandangan indah seorang perempuan hippie cantik yang sedang menggerat nada-nada Folky Blues berbalut Jazz. Dia adalah Rebecca Reijman. 8 jari untuk aksinya. Karena membuai, sedikit seperti ada luapan magis dari suaranya, dan dipenuhi dengan bilur-bilur aroma feminis dari keseluruhan musik maupun not. Menyenangkan. 

Hiruk pikuk masa karaoke dari salah satu pojokan bir cukup menggoda untuk menceburkan diri ke dalamnya. Dan benar saja, setelah mengudap beberapa kaleng Bintang, berulang-ulang Mic di-invasi oleh tangan ini demi menyuarakan lenguhan hati melalui pilihan lagu-lagu romansa masa muda. Semua bergembira, segembira gembiranya. Memang betul, fenomena karaoke tidak ada matinya.

Dari situ kaki melangkah ke sebuah Van, yang menghadirkan jejogedan Diskoria, dua pemutar lagu-lagu Nusantara terbaik saat ini. Sisa kekuatan tubuh dihabiskan di situ, untuk menghempaskan aura jelek, agar menjadi dansa positif. Nikmat.

Hari ketiga di Java Jazz menjadi acara instalasi tubuh, otak, dan pikiran untuk mencari asupan Jazz yang mudah cerna, guna membuat hari-hari berikutnya terasa lebih ringan dan bermanfaat. Benar saja, pilihan menyaksikan Pamungkas serta Fariz RM merupakan asumsi yang tepat. Kuping terhibur, perasaan membaik, dan komplotan otot di seluruh tubuh melonggar. Usah pedulikan hujan dan sedikit banjir yang menggelinangi acara, hingga menyebabkan beberapa penampil gagal tampil. Karena esensi festival ini sudah bagus, dan patut dipertahankan hingga kapan pun. Kudos Java Jazz!