Jaya Pub yang Tetap Berjaya

Usia bukan sebuah perkara. Hal itu yang coba dibuktikan oleh Jaya Pub ketika menjadi satu-satunya bar tertua yang ada di Jakarta. Berdiri sejak tahun 1975, bar ini masih tetap kokoh dan perkasa dengan kejadulan mereka.

Nyaris setengah abad bar ini hadir di area gedung Jaya yang berada di bilangan Jakarta Pusat. Pesonanya sama sekali tidak memudar walau sekarang banyak bermunculan bar-bar yang mempunyai konsep kekinian dan menyuguhkan berbagai jenis minuman jagoan dari masing-masing tempat. Ya, Jaya Pub punya pengunjung setianya sendiri. Pengunjung yang menikmati setiap detil masa silam yang ada disana. Mulai dari interior seperti meja dan bangku, beberapa lukisan tua, foto-foto lama Elvis Presley, Marilyn Monroe, Queen, meja biliar, hingga pelayan yang ada disana, karena para pelayan disana rata-rata sudah bekerja selama 30 tahun.

Jaya Pub dibuat atas inisiasi duo pelaku seni kenamaan Indonesia, almarhum Frans Tumbuan dan Rima Melati selepas kepulangan mereka dari Belanda. Saat itu mereka merasa kota Jakarta tidak memiliki tempat hiburan malam berupa pub layaknya di Eropa. Akhirnya munculah ide untuk membuat tempat minum-minum dan berkumpul dengan design yang otentik dan akhirnya bertahan abadi hingga sekarang.

Jika kita mendatangi tempatnya, kita akan mendapatkan nuansa era lampau yang penuh dengan ketenangan. Disana kita bisa melepaskan tekanan aktivitas sehari-hari yang begitu menggila dan mendapatkan relaksasi secara menyeluruh, dibantu suasana remang-remang yang syahdu atau ditemani segelas bir dingin sebagai permulaan sambil menikmati irama musik Jazz yang biasa dimainkan disana.

Berbicara soal musik, Jaya Pub juga bisa dibilang sebagai saksi lahirnya musisi-musisi kenamaan Indonesia. Karena bisa dibilang, tempat ini dulunya menjadi “tempat nongkrong” mereka-mereka yang akhirnya menjadi maestro kebanggan Indonesia. Sebut saja nama-nama seperti Erny Djohan, Idang Rasjidi, Mergie Segers, dan Ireng Maulana pernah menghabiskan waktu mereka disana untuk sekedar bersenda gurau atau pun memamerkan kemampuan bermusiknya.

Di masa sekarang, pintu mereka lebar terbuka untuk perkembangan para musisi indie. Itu terlihat ketika adanya konsistensi gigs indie yang diadakan pada hari Minggu terakhir tiap bulannya bertajuk “Superbad” yang diprakarsai oleh The Secret Agent Indra Ameng dan Keke Tumbuan. Acara itu pun sukses mendapatkan perhatian dan selalu sesak dipenuhi penonton ketika diadakan.

Dengan segala kejadulan yang ada disana, Jaya Pub seolah ingin menegaskan bahwa salah satu pembeda dengan bar yang lain adalah saat dunia itu bergerak maju, mereka tetap diam ditempat dan berbeda dengan yang lainnya. Bar tertua di Jakarta ini juga tidak merasa tertinggal dengan keadaan karena dalam ketertinggalan mereka tetap merasa bahagia.