Cap Tikus : Lebih Bernilai di Era Kaum Milenial

Minuman keras tradisional Minahasa ini sebelumnya dikenal dengan nama sopi. Tapi sebelum tahun 1829, sopi bertransformasi dengan berubah nama menjadi “Cap Tikus”, ketika orang Minahasa yang ikut pendidikan militer untuk mengahadapi perang Jawa menemukan sopi dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus.

Dalam sejarahnya, Cap Tikus digunakan saat upacara memasuki rumah baru sebagai bentuk penghormatan terhadap dewa pembuat rumah, leluhur Tingkulendeng. Sang tuan rumah harus menyiapkan Cap Tikus kepada Tonaas (pemimpin upacara) dengan iring-iringan nyanyian lagu “Marambak” sebagai keseluruhan dari upacara. Hal itu sudah dilakukan turun temurun dan dipercaya akan menjauhkan marabahaya dari pemilik rumah.

Bahan dasar pembuatan Cap Tikus berasal dari air sadapan yang menetes dari Pohon Enau, yang oleh masyarakat Minahasa dikenal sebagai Pohon Akel atau Seho yang secara umum disebut Pohon Aren. Memproduksi Cap Tikus butuh berhari-hari. Kerja sejak pagi hingga sore, bahkan malam. Butuh waktu dan tenaga. Sebab kebanyakan pohon aren tingginya lebih dari 10 meter. Menaiki pohon aren di Minahasa dilakukan secara tradisional, dengan hanya mengandalkan sebuah bambu berlubang jari yang disandarkan di batang pohon. Di Minahasa, produsen Cap Tikus berada di banyak lokasi dan dibuat oleh warga. Salah satunya di Desa Rumengkor, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Di luar sejarahnya, perjalanan minuman tradisional ini bisa diibaratkan roda kehidupan yang berputar. Ada saat dimana minuman berkadar alkohol 45% ini berada di bawah ketika keberadaannya ditentang dan dikonsumsi secara berlebihan atau disalahgunakan. Contohnya saat banyak pihak yang membuat minuman oplosan dari Cap Tikus yang ditambah dengan cairan lain merenggut korban jiwa. Petugas kepolisian pun akhirnya terpaksa turun tangan dengan memasang spanduk-spanduk larangan untuk meminum nya (terutama di Manado dan Minahasa).

Tapi kini posisi Cap Tikus sedang berada di atas dan menanti kejayaannya. Berkat kerja keras Bupati Minahasa Selatan Dr Christiany Eugenia Paruntu, sekarang minuman itu sudah legal. Perizinan lain pun sudah dipenuhi, seperti izin BPOM, Bea Cukai, dan izin distributor dari Kementrian.

Untuk penjualan, metodenya sudah mengikuti perkembangan zaman yang kekinian lewat akun Instagram @captikus1928. Harga satuan dijual Rp. 80.000 dan dikemas dalam sebuah botol berbentuk klasik berwarna cokelat yang mudah dibawa. Tutup botolnya juga bersegel sehingga dipastikan produk ini tidak dapat dipalsukan atau diisi ulang dengan cairan lainnya.

Alhasil, dengan transformasi yang sudah dilakukan secara benar, Cap Tikus berpotensi mendapatkan banyak peminat dan lebih bernilai. Apalagi saat kaum milenial sekarang suka mengkonsumsi sesuatu yang terlihat menarik dan menggoda untuk mereka. Namun ada satu hal yang perlu diingat dalam aturannya, jika ingin mengkonsumsi minuman beralkohol harus ada batasnya atau dengan kata lain, “kalo ngana mau bagate, ngana musti tau batasnya.”