Sekelumit Risih Pada Kembalinya Tren Bersepeda

Ada warna banyak komposisi warna yang tertuang dalam figura 2020. Selain warna hitam dominan akibat pandemi yang berlangsung dan merah dari kegusaran massa atas ketidakjelalsan, nyatanya ada warna hijau yang berbinar terang. Hijau tersebut timbul dari kian tumbuh kembalinya tren gaya hidup sehat, terutama pada kultur bersepeda yang terlihat kembali ramai digeluti berbagai kalangan, meski kian jadi ajang pamer beberapa manusia seiring perjalanannya.

Banyak yang bertanya mungkin bagaimana tren ini kembali hidup, terutama ketika Sudirman-Thamrin, Rasuna Said dan jalan protokol ibu kota lain yang biasanya riskan kemacetan kini kian padat dipenuhi pesepeda. Bagaimana tren ini kembali hidup? Apa atas dasar kesadaran akan gaya hidup sehat yang kian terpatri akibat pandemi yang belum berujung ini? Pertanyaan tersebut pun Kami todongkan kepada Andira Pramanta, seorang pekerja kreatif yang telah lama menjadikan sepeda sebagai gaya hidupnya.

Boom sepeda di tahun 2020 ini, bisa jadi adalah salah satu impact dari pandemi. Banyak orang yang #dirumahaja, bosen, kepingin punya kegiatan di sekitaran rumah, atau olahraga baru.” jawab Andira

Selain hal tersebut, pengurangan jam operasional dan pembatasan kuota angkut yang diterapkan memang menjadi pelik yang patut digaris bawahi. Sepeda sebagai alat transportasi alternatif yang dikenal simpel dan mudah digunakan pun kian menjadi pilihan.

“Bahkan sampe pengganti transportasi, karena takut atau belum berani naik kendaraan umum. Sepeda jadi alat rekreasi yang dicari-cari karena semua orang pasti waktu kecil pernah sepedaan.” lanjutnya Andira.

Lalu mengenai kaitannya tren bersepeda hari ini dengan kesadaran gaya hidup sehat di kala pandemi, menurut Andira sendiri, penerapan haya hidup sehat memang sedang booming-boomingnya. Hal tersebut terlihat dari kian beragamnya alternatif olahraga di rumah dan banyaknya kelas-kelas online seperti yoga, lari dan lainnya di buka secara online. Namun sepeda yang jelas bentuk fisiknya dan bisa dijadikan konten unggahan di media sosial mungkin menjadi alasan banyak orang beralih menggunakan alat transportasi ini.

Berbicara mengenai konten unggahan di sosial media, tak dapat dipungkiri, sepeda pun kian menjadi buah bibir percakapan daring dan hobi baru para pesohor maya. Popularitas tren sepeda cepat menyebar dan nampak menjadi sebuah anomali baru yang menjadikan hobi ini dicoba banyak orang.

Malangnya, seiring ramainya massa yang “ikut-ikutan” menekuni tren ini, tren bersepeda pun bergeser maknanya. Bersepeda yang awalnya merupakan aktivitas olahraga pun lambat laun berubah jadi ajang pamer dengan berbagai varian sepeda-sepeda berharga fantastis dan aksesoris-aksesoris bernilai tingginya. Bagaimana penggiat hobi bersepeda seperti Andira menanggapinya?

“Gue pribadi gak punya masalah sama itu. Ada kesenangan tersendiri ketika kita bangga sama apa yang kita punya. Cuma menyayangkan aja, kalo pamer-pamernya lebih banyak daripada sepeda-annya. Ya, gue ngomong gini sambil ngaca. Hehehe. Perlu diingat kata-kata dari teman saya Rangga Panji, ada yang lebih penting daripada sepeda yaitu, “Sepedaanya”.” jawab Andira.

Terlepas dari semua itu, jika semua kemelut pandemi telah berakhir, kembali normalnya aktivitas harian dan kembali beroperasi sedia kalanya operasional transportasi umum, akankah tren ini bertahan? Akan seperti apa tren sepeda dua atau tiga tahun dari sekarang?

“Terakhir kali boom sepeda itu terjadi di 2010. dan ini terulang lagi di 2020. kalo ditanya sampai kapan tren ini akan bertahan, mungkin kembali lagi ke culture-nya. Sebuah culture yang lagi booming, akan terus berlanjut, walaupun intensitasnya akan berkurang.” ujar Andira.

“Kepinginnya sih, buat temen-temen yang kena “boom”-nya sepedaan di tahun ini, mulai sadar, kembali ke asal guna sepeda, yaitu alat transportasi, dan bisa menyatu ke dalam lifestyle sehari-hari. Bukan alat pamer, bukan alat olahraga, tapi jadi bagian dari hidup. Azek.” tutupnya.

Sumber Foto : ANTARA FOTO/Rivan Awal