Satu Vespa Sejuta Saudara Seribu Cerita

Tunggangan satu ini tidak hanya dianggap sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan pengendaranya dari satu titik ke tempat tujuannya. Lebih dari itu, beberapa kalangan menganggap barang antik ini adalah bentuk supremasi tentang gaya hidup, hobi sekaligus fesyen. Vespa dianggap dapat melambangkan itu semua.

Vespa dikenal antik karena umur, cerita dan sejarah kelahirannya. Kendaraan yang diciptakan pada awal Perang Dunia Kedua ini awalnya diperuntukan sebagai standarisasi militer yang menunjang mobilitas prajuritnya di medan pertempuran. Pasca perang dunia Vespa kian diminati karena daya tahannnya yang super dan kuat membawa beban berat.

Kendaraan istimewa ini lambat laun masuk ke Indonesia pada akhir dekade 50-an. Vespa di Indonesia pernah pula dijadikan sebagai simbolis penghargaan bagi Pasukan Penjaga Perdamaian bernama Kontingen Dua Garuda yang bertugas di wilayah Zaire (sekarang Kongo) pada 1960 dan Kontingen 3 yang diterjunkan pada 1962. Sedangkan untuk kapasitas mesinnya dibedakan, 150 cc untuk pangkat tinggi dan 125 cc untuk tingkat kepangkatan lebih rendah. Sebelum invasi pasar otomotif dari jepang terjadi, kendaraan ini pernah jadi primadona di tanah air.

Di era sekarang, Vespa yang punya model khas, daya tahan super, perawatan berbeda, hingga cerita-cerita dibalik perjalannya membuat barang ini dikatakan antik dan punya nilai tinggi tersendiri. Usia uzur tidak membuat otomotif ini turun harga, berbagai spareparts hingga bagian-bagian orisinil justru berharga mahal karena kelangkaan di mana tidak ada lagi produksinya.

Vespa juga yang kian jadi supremasi fesyen dan gaya hidup pengendaranya pun jadi medium yang merekatkan antar penggunanya. Beragam komunitas dan perkumpulan pun hadir dari kendaraan ini di tanah air, jumlahnya bahkan menjamur hingga mencangkup sekup kecil antar domisili. Komunitas Vespa bahkan dikenal punya solidaritas tinggi dan punya jiwa sosial besar. Satu Vespa Sejuta Saudara, begitu slogan mereka.