Panjat Liar Kolektivo, Antitesis Komunitas Panjat Tebing

Apa yang pertama kali terbersit jika mendengar panjat tebing? Olahraga ekstrim, latihan fisik ekstra, keseriusan serta beragam tetek-bengek alat perlengkapan mahal pasti menjadi yang pertama kali menyeruak dari pikiran Anda. Dan, agak serius pun butuh pertimbangan tentunya. Namun bagaimana jika semua itu dirubah stigmanya menjadi sebuah kegiatan menyenangkan yang diisi beragam keseruan dan serba serbi jenaka selama latihan? Mungkin Panjat Liar Kolektivo dapat mendeskripsikannya.

Di sebuah percakapan Whatsapp kami bertanya langsung pada Aswin Alkautsar perihal apa itu Panjat Liar Kolektivo. Sebuah pertanyaan ngehe yang mungkin akan sangat dimaklumi mengingat bio Instagram komunitas ini tak dapat membantu dengan informasi yang cukup, “Bunch of shitty amateur climbers who knows nothing about climbing but knows a thing or two about having a good times” tulisnya.

Kembali ke percakapan di Whatsapp, Aswin menuturkan jawabannya dengan serius. “Panjat Liar Kolektivo adalah  paradoks. Antitesis kalo dunia panjat itu milik atlet atau segelintir anak-anak pecinta alam doang. Paliko (akronim Panjat Liar Kolektivo) isinya amatir yang ingin explore dan bersenang-senang di dunia manjat tanpa mengesampingkan faktor safety tentunya. Mirip-mirip punkrock movement lah. Hahaha.” jelasnya.

Terbentuknya komunitas Panjat Liar Kolektivo ini cukup menarik. Merunut dari cerita Aswin, kecintaan dirinya, Bobby dan Jason pada dunia panjat yang kerap dibarengi dengan kebiasaan minum membuat tiga serangkai ini dikucilkan. Ketiganya pun memisahkan diri, lalu membentuk Panjat Liar Kolektivo di 2017/2018 sebagai sebuah wadah yang nampaknya akan lebih fleksibel dan ruleless dibanding komunitas panjat lainnya.

Seiring berjalannya waktum Panjat Liar Kolektivo pun memiliki banyak agenda. Selain latihan dan kumpul rutin di Rabu malam, salah satu agenda komunitas ini yang patut menjadi sorotan adalah free training bagi para pemula. Semua orang bisa ikut latihan bersama Panjat Liar Kolektivo dengan gratis, tanpa persyaratan apapun. “Dateng aja, kenalan sama yang ada tiap rabu malam, alat gak punya nanti dipinjemin, nanti juga kalo udah kesetrum dia beli. Hahaha” ujar Aswin.

“Di tempat lain orang mau belajar manjat ada tes belay, tes jatuh blablabla, semua yang berhubungan dengan safety, nah tes itu bayar. Kalo di tempat gue itu gratis. Asal mau nurut dan belajar aja.” tambah Aswin.

Selain free training, Panjat Liar Kolektivo juga aktif dalam berbagai aksi sosial dan amal. Penggalangan dana hingga bantuan promosi dagang UMKM. Satu lagi, komunitas yang bermarkas di GOR Bulungan ini pun juga rutin mengadakan acara tahunan yang diadakan di tebing setiap bulan Oktober, Rocktober Bash namanya. Acara yang berisikan agenda majat massal, kumpul antar komunitas dan camping ini menjadi salah satu cara Panjat Liar Kolektivo mengakrabkan diri.