Kawanan Tukar Pikiran: Kelompok Diskusi Yang Merayakan Pertemuan Fisik

Memasuki abad modern saat ini membuat banyak aktivitas yang tadinya dikerjakan secara langsung mulai digantikan oleh teknologi, tak terkecuali dalam hal berkomunikasi. Kini komunikasi tatap muka bukan lagi menjadi keharusan karena adanya aplikasi chatting dan media sosial. Namun ada satu komunitas yang menyadari bahwa pertemuan secara fisik adalah momen sakral yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Merekalah Kawanan Tukar Pikiran. Sebuah perkumpulan yang mengutamakan pertemuan fisik dan kerap membahas hal-hal fundamental dalam berkehidupan.

Kawanan Tukar Pikiran atau disingkat KTP adalah sebuah klub diskusi dan tukar pemikiran yang membahas aneka tema yang diselenggarakan dalam pertemuan fisik. Perkumpulan ini adalah buah pemikiran dari Candra Hermawan Johan atau kerap disapa Che. Frontman dari band Cupumanik itu membentuk KTP sebagai bentuk keresahannya terhadap pergeseran komunikasi tatap muka yang semakin ditinggalkan.

“Percakapan peradaban manusia kini dikuasai oleh aplikasi chat, bahkan saling sapa dengan pesan singkat sudah jadi lanskap kehidupan modern. Menjaga silaturahmi perjumpaan fisik seringkali mulai tergantikan oleh saling sapa melalui ponsel. Jadi ‘Kawanan Tukar Pikiran’ adalah cara kita merayakan pertemuan fisik dengan obrolan gizi yang bisa kita bawa pulang,” ujar Che dalam sesi wawancara.

Kegiatan diskusi Kawanan Tukar Pikiran (KTP). Sumber: dokumentasi Pribadi

KTP sendiri pertama kali di gelar pada 1 Desember 2019 lalu. Dalam hitungan bulan komunitas ini sudah menjalankan belasan kegiatan diskusi yang membahas beragam tema. Selain itu, para anggota KTP terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang tak memandang perbedaan profesi ataupun usia.

Kami membahas beragam topik mulai skena musik grunge Indonesia, perkembangan teknologi informasi, bahkan sampai tren kopi. Kami juga sempat mengulas salah satu film dokumenter. Pernah dalam suatu sesi kami mendengarkan pengalaman traumatis dari seseorang teman. Intinya hal-hal yang dekat dengan kehidupan,” jelas Che menyebutkan beragam tema yang dibahas dalam diskusi KTP.

Pada wabah pandemi ini pertemuan yang kerap diadakan KTP terpaksa dilakukan melalui jarak jauh. Meski melanggar fitrahnya yang mengutamakan pertemuan fisik, komunitas ini bisa menjangkau pengikutnya yang bermukim di luar Jakarta. Selama masa pandemi KTP sudah menggelar 4 episode yang dapat diikuti melalui aplikasi Zoom.

Kegiatan diskusi melalui Zoom. Sumber: Dokumentasi Pribadi

KTP bukan sekedar perkumpulan yang diisi oleh obrolan semata, KTP lahir sebagai gerakan untuk menyadarkan masyarakat bahwa ruang diskusi sangat penting untuk hadir sebagai wujud kehidupan sosial. Karena manusia pada hakikatnya selalu membutuhkan orang lain untuk meningkatkan kualitas hidup dan memunculkan ide-ide baru.

“KTP bisa jadi contoh, kita perlu bertemu dengan orang yang punya watak keterbukaan & punya kebiasaan mendengarkan, mencoba menangkap hal baru. Itu semua sudah menjadi gerakan nyata dari KTP. Tapi ada satu keinginan kita yang belum terealisasikan, kami ingin tour menggelar KTP ke beberapa kota dan sekaligus membangun taman baca atau kebun diskusi di beberapa tempat. Bercerita dan bedah buku di suatu tempat berkumpul dengan masyarakat,” tandas Pria beranak dua itu mengakhiri sesi wawancara.