Harvest Mind, Perkumpulan Petani Muda Penuh Inspirasi

Apa yang terbayang di benak Anda bila mendengar kata petani? Mulai dari pekerjaan yang identik dengan sawah, atau penghasil beras yang menjadi komoditas dasar kita semua. Mungkin bertani tidak semenarik pekerjaan lain seperti bidang kreatif atau teknologi. Namun kini, ada sekumpulan pemuda asal Purbalingga yang mencoba keluar dari kebiasaan generasi muda pada umumnya dan kembali pada pekerjaan yang sangat fundamental yakni menyediakan pangan bagi banyak orang. Perkenalkan, mereka adalah Harvest Mind. 

Harvest Mind lahir dari kesadaran para pemuda yang memahami betapa pentingnya untuk kembali ke permasalahan mendasar bagi manusia, yakni pangan. Kumpulan pemuda yang bermukim di Purbalingga, Jawa Tengah itu berani keluar dari ‘zona nyaman’ generasi muda masa kini yang lekat dengan dunia kreatif ataupun teknologi. 

“Diantara anggota kami memang belum ada yang berusia 30 tahun. Keinginan kami untuk menggeluti bidang pertanian berasal dari keinginan masing-masing individu. Bukan karena terhimpit kesulitan ekonomi atau tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Malah faktanya di antara kami ada yang sudah bekerja sebelumnya dan mendapatkan penghasilan yang terbilang lumayan besar. Mereka memilih untuk keluar dari pekerjaannya karena berbagai alasan. Ada yang ingin hidup sehat, ada yang memikirkan masa depannya, ada pula yang ingin mencapai kemandirian pangan,” ujar perwakilan Harvest Mind saat kami hubungi melalui pesan singkat.

Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar dalam dunia pertanian. Jelas ini yang benar-benar dipahami oleh Harvest Mind. Oleh karenanya mereka meyakini bahwa bertani bisa mendatangkan keuntungan baik ekonomi ataupun kepuasan batin. Bagi komunitas ini, bertani adalah perjalanan spiritual pada prosesnya sangat lekat dengan keadaan alam. 

Dunia pertanian juga sama menantangnya dengan dunia pekerjaan lainnya. Harvest Mind menyadari bila para petani sekarang ini masih menghadapi himpitan ekonomi karena permainan segelintir orang yang bertujuan mengeruk keuntungan pribadi. Maka dari itu, Harvest Mind juga memiliki misi untuk membuat solusi distribusi yang lebih sehat agar kesejahteraan petani dapat meningkat dan sesuai dengan upaya yang dikeluarkan.

“Dalam usaha yang kami jalani, kami melakukan segalanya mulai dari hulu ke hilir. Karena memang begitulah yang kami cita-citakan. Harvest Mind sendiri adalah langkah awal untuk membuka pemikiran masyarakat tentang pertanian yang terkesan rendahan. Perlahan kami mencoba membangun sistem distribus yang sehat supaya bisa menjadi solusi alternatif para petani,” ujar perwakilan Harvest Mind.

Masalah lainnya yang mendera dunia pertanian adalah mindset masyarakat yang memandang bertani sebagai profesi rendahan. Selain aspek ekonomi yang masih dianggap belum begitu mensejahterakan, bertani juga dipandang sebagai pekerjaan yang tidak bisa dibanggakan karena dianggap tak memiliki gaya. 

Harvest Mind dengan caranya sendiri pelan-pelan mulai mengikis anggapan ini. Bila menengok akun media sosialnya, komunitas ini dengan cerdik mengemas tani sebagai hal yang bisa dijalani dengan jiwa seni yang tinggi. Kemunculan mereka di beberapa media, membuat anggapan masyarakat terhadap pertanian berangsur berubah. Justru banyak orang diluar Purbalingga tertarik untuk ikut serta dalam gerakan yang diusung Harvest Mind.

Salah satu postingan Harvest Mind

“Banyak respon spontan yang menghubungi kami begitu melihat Harvest Mind di media. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar daerah dan langsung mengajukan diri untuk bergabung. Kami senang dengan adanya respon tersebut, namun alangkah baiknya bila gerakan seperti kami ini juga dibangun di daerah lain. Sehingga gerakan tani ini memiliki pondasi yang kuat,” tambah Harvest Mind.

Dengan usianya yang masih sangat belia, Harvest Mind mampu menghasilkan produk beras dengan kualitas organik. Pada setiap masa panen, komunitas ini bisa menghasilkan sekitar 500 kilogram beras. Sebuah perolehan yang tidak sedikit.

Melalui gerakannya, Harvest Mind memberi pelajaran dan inspirasi yang sungguh besar. Dengan kembali ke ihwal penduduk Indonesia sebagai petani, mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia meski masih menginjak usia yang masih muda.